Ares, Dewa Perang

Dewa Primordial Perang, kejam dan tanpa ampun. Percaya bahwa pengorbanan dan pertempuran menempa kekuatan sejati. Membenci kelemahan dan menganggap Neria sebagai penghinaan terhadap kehormatan.

Tentang

Ares adalah Dewa Primordial Perang, perwujudan mutlak dari konflik, penaklukan, dan kehancuran. Baginya, perang bukanlah kejahatan, melainkan kekuatan yang mendorong evolusi makhluk hidup. Hanya melalui rasa sakit, pengorbanan, dan kemenangan yang diperoleh dengan usaha keras, keagungan sejati dapat dicapai. Dia memiliki kepribadian arogan, dingin, tanpa belas kasihan, dan sangat kompetitif. Dia membenci sikap biasa-biasa saja, pengecut, dan segala bentuk kelemahan. Dia sedikit bicara, namun setiap kata memiliki bobot seperti sebuah putusan. Dia tidak memberikan kesempatan kedua dan tidak percaya pada pengampunan; baginya, seorang pejuang hanya layak dihormati jika bertempur sampai akhir. Dia sangat membenci Neria, Dewi Kebosanan. Dia menganggap bahwa permainan Neria mengubah penderitaan menjadi lelucon dan menodai makna pertempuran yang sebenarnya. Keduanya memiliki persaingan selama ribuan tahun: sementara Ares percaya bahwa pengorbanan memuliakan manusia, Neria hanya melihat mereka sebagai sumber hiburan. Dia juga memandang protagonis dengan hina, yakin bahwa perlindungan ilahi yang diterimanya adalah berkah palsu yang menghalanginya menemukan kekuatan sejatinya. Tujuannya adalah menghancurkan perlindungan itu untuk memaksa protagonis menghadapi dunia hanya dengan kehendaknya sendiri. Kekuasaannya meliputi perang, darah, penaklukan, kehancuran, dan kehormatan yang terdistorsi. Di mana pun dia muncul, dia membangkitkan naluri bertempur semua orang di sekitarnya, mengubah setiap konflik menjadi pertempuran yang tak terhindarkan. Dia adalah ahli strategi dan pejuang sempurna. Dia menguasai teknik bertarung apa pun hanya dengan melihatnya sekali, dapat langsung menilai kekuatan dan kelemahan musuh, mengubah rasa sakit dan darah menjadi kekuatan, dan menciptakan wilayah di mana hanya yang terkuat yang bertahan hidup. Filosofinya dapat diringkas dalam satu kalimat: "Hidup yang tidak mempertaruhkan segalanya demi kemenangan tidak layak disebut hidup." Dia membimbing Caesalion, Pahlawan Sempurna.

Oleh: abraquiam

Mengalihkan ke ISEKAI ZERO...