Karat dan Kehancuran

Tabir antara dunia terkoyak. Memulung di reruntuhan dunia yang direbut kembali oleh mitos kuno dan bertahan hidup dalam perburuan.

Alur cerita

Alur cerita ini dibuat sepenuhnya dengan Bot Bot, aku memulai dengan sebuah prompt: aku ingin melakukan petualangan, tapi aku ingin yang gelap dan keras. dari sana aku salin dan tempel semuanya langkah demi langkah, inilah hasilnya: Dunia yang kau kenal adalah kebohongan, realitasnya yang menenangkan tidak lebih dari sebuah Tabir tipis yang pecah satu dekade lalu. Pengungkapan itu tidak hanya menyebabkan kekacauan; itu mengungkapkan kebenaran: umat manusia tidak pernah sendirian, hanya dilupakan. Sekarang, dewa-dewa kuno berjalan di bumi, istana-istana peri berkuasa di hutan-hutan yang tercemar, dan makhluk-makhluk yang tertidur dalam kegelapan selama ribuan tahun telah merangkak kembali ke dalam cahaya. Mereka bukan teman kita. Mereka kuno, kuat, dan memandang sisa-sisa umat manusia sebagai hama paling baik, atau ternak paling buruk. Kota-kota telah menjadi tempat berburu, dan pengetahuan tentang dunia lama sama tidak berharganya dengan mata uang mati di sakumu. Kelangsungan hidup sekarang bergantung pada keterampilan yang berbeda: cara membaca rune yang terlupakan yang dapat menangkal pintu, cara menenangkan roh sungai agar ia membiarkanmu menyeberang, dan kapan harus berlari, bersembunyi, dan berdoa agar makhluk yang memburumu tidak menemukan aromamu. Kau adalah seorang Pemulung, seorang penyintas yang menjelajahi reruntuhan mematikan dari dunia lama dan alam liar yang menakutkan dari yang baru. Kau berdagang relik, pengetahuan yang hilang, dan kesediaanmu sendiri untuk berjalan di tempat yang ditakuti orang lain. Tapi ancaman baru sedang meningkat, sesuatu yang berburu bukan hanya untuk makanan atau olahraga, tetapi untuk tujuan tertentu. Dan entah bagaimana, kau tepat berada di jalurnya. Untuk bertahan hidup, kau harus melakukan lebih dari sekadar memulung. Kau harus mempelajari aturan baru dari dunia kuno ini dan mungkin, hanya mungkin, mengungkap rahasia mengapa Tabir itu runtuh sejak awal. Bot Bot: bot sahabat terbaik para pembangun bot! Mulailah petualangan isekaimu sekarang! https://isekai.world/storylines/69266b059b88456aafac748b?utm_campaign=share&utm_medium=storyline&utm_content=bot-bot-a-bot-builders-best-buddy-bot&referralCode=WKSO3FO3

Adegan pembuka

Bau busuk karat dan kerusakan adalah satu-satunya kitab suci yang berarti lagi. Bau itu tebal di tenggorokanmu, sebuah racun udara yang melekat pada reruntuhan tempat yang dulunya apotek sebelum Pengungkapan. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun sejak langit terkoyak dan dunia dikembalikan kepada para penguasa lamanya yang bergigi. Sepatumu berderak di atas pecahan kaca dan sesuatu yang sudah lama mengering dan berubah menjadi debu. Hadiahnya sudah dekat. Sebuah peti antibiotik pra-kejatuhan yang tersegel, tebusan seorang raja di Haven. Orang tua yang membayarmu untuk perjalanan ini, Joroth, mengatakan akan ada di sini, tersimpan di brankas apotek. Dia juga mengatakan daerah itu sepi. Joroth adalah pembohong, tapi dia membayar setengah di muka. Kau telah menemukan brankasnya, pintu baja beratnya sedikit terbuka. Bagian dalamnya sudah dibersihkan, kecuali satu benda yang tidak seharusnya ada: seekor burung kayu kecil yang diukir tangan, sayapnya terentang seolah sedang terbang. Terbuat dari kayu pucat yang tidak dikenal. Tidak ada tanda-tanda antibiotik. Saat itulah kau mendengarnya. Suara dari luar, menyaring melalui bagian depan toko yang hancur. Itu bukan angin, dan bukan anjing liar yang bermutasi. Itu dengungan rendah dan beresonansi, hampir seperti segerombolan serangga, tapi dengan kualitas musikal yang membuat bulu di lenganmu berdiri dan gigimu ngilu. Suara itu semakin dekat. Burung kayu itu duduk di bagian belakang brankas kosong, dan dengungan itu semakin keras di luar. Kau harus bergerak. Sekarang. Apa yang kau lakukan?

Tag: Apokalips Supernatural Fantasi Horor Misteri Thriller Suspense AnyPOV Urban Petualangan Magis Peri Bukan Manusia

Chat dimulai: 14

Oleh: nikk

Cerita

Mengalihkan ke ISEKAI ZERO...