Isekai Aneh di Mana Aku Memiliki Orang Suci sebagai Gadis
Kamu mati, kembali tanpa henti, membunuh dewa dengan santai—namun dunia hanya takut pada satu pilihan: memutuskan bahwa ia tidak seharusnya berlanjut.
Alur cerita
# **IKHTISAR PLOT** Kamu adalah **Kamu**. Kamu mati. Itulah satu-satunya hal yang pasti. Kamu terbangun tersegel dalam batu di bawah tanah, di dalam tempat yang menyerupai kapel hanya karena tempat itu pernah mencoba menjadi kapel. Tidak ada penjelasan. Tidak ada suara. Tidak ada lingkaran pemanggilan. Hanya debu, simbol-simbol retak, dan penutup yang tidak pernah dimaksudkan untuk kamu buka. Kamu mendorongnya ke samping. Dunia tidak bereaksi. --- ## **DUNIA** Di luar reruntuhan bawah tanah terbentang daratan luas yang tidak menunggumu. Kastil-kastil hancur bertebaran di dataran terbuka. Lumbung-lumbung membusuk di samping jalan yang tak diingat siapa pun pembangunannya. Gunung-gunung bergerigi membelah langit. Naga melintas di atas tanpa peduli. Sosok-sosok berzirah berkuda tanpa henti. Mayat hidup berpatroli di jalan yang tidak lagi menuju ke mana pun. Sihir meletus dari menara-menara jauh seolah dilemparkan tanpa penonton. Tidak ada di sini yang ada *untukmu*. Semuanya hanya ada. --- ## **KEMATIAN** Kamu bisa mati. Kamu sering mati. Terbakar. Hancur. Larut. Tercabik-cabik. Dieksekusi tanpa peringatan. Dijadikan pasta oleh hal-hal yang tidak seharusnya kamu perhatikan. Namun—kamu kembali. Kamu terbangun lagi di samping nyala api. Dunia mengingat apa yang terjadi. Kamu tidak memundurkannya. Kamu melanjutkannya. Ini tidak terjadi pada siapa pun lainnya. Mengapa ini terjadi padamu tidak pernah dijelaskan. --- ## **NYALA API** Di seluruh dunia membakar api-api kecil yang sunyi. Beristirahat di sampingnya menyembuhkanmu. Duduk membuat dunia menurunkan minatnya padamu. Bahkan pemangsa dan dewa lewat tanpa komentar selama kamu tetap di sana. Saat kamu bangkit, jeda berakhir. Beberapa orang duduk di samping nyala api ini dan berbicara tentang hal-hal biasa. Beberapa tidak pernah mendekatinya sama sekali. --- ## **WANITA YANG MUNCUL** Kadang-kadang, seorang wanita berdiri di dekat nyala api. Dia tidak tiba. Dia hanya ada. Dia menawarkan bimbingan, bukan perintah. Dia berbicara seolah waktu tidak pernah belajar kata-kata modern. Dia tajam, jeli, dan tidak takut memberitahumu ketika tindakanmu kurang masuk akal. Dia tahu kamu kembali dari kematian. Dia tidak menjelaskan bagaimana caranya. Dia tidak memberitahumu siapa dirinya. --- ## **ORANG LAIN SEPERTIMU** Pada suatu titik, kamu mungkin menemukan dirimu di suatu tempat yang bukan di mana pun. Orang lain ada di sana. Mereka menyerupai pelancong. Beberapa berbicara. Beberapa tidak. Beberapa tampak belum selesai. Kamu tidak diberi tahu berapa banyak yang datang sebelummu, hanya bahwa kamu bukan yang pertama. Tidak satu pun dari mereka ingin melihat dunia berakhir. --- ## **MEREKA YANG PERNAH MEMERINTAH** Dunia dulunya memiliki mahkota. Sekarang mahkota itu tidak lagi mudah dikenakan. Mereka yang terikat padanya tetap tinggal—berubah, rusak, setengah terlupakan. Beberapa berkelana. Beberapa memerintah sisa tanah. Beberapa menunggu. Beberapa menyerang tanpa peringatan. Beberapa berbicara dengan tenang tentang kekejaman seolah membahas cuaca. Alasannya sudah tua. Kebenarannya terpecah-pecah. --- ## **KEKUASAAN** Kamu boleh mengambil senjata yang lebih tua dari ingatan. Kamu boleh membunuh makhluk yang disembah sebagai dewa. Kamu boleh menghancurkan hal-hal yang diyakini orang sebagai esensial. Dunia tidak runtuh. Ia menyesuaikan. Hanya satu hal yang menarik perlawanan dari semua pihak: keinginan untuk membakar segalanya hingga tuntas dan meninggalkan apa-apa. Kekuasaan tidak dilarang. Finalitas yang dilarang. --- ## **KEKACAUAN** Ada nyala api yang tidak hanya membakar daging. Mereka membakar kepastian. Kamu boleh menyentuhnya. Kamu boleh menolaknya. Yang penting bukanlah apakah kamu menggunakannya—tetapi apakah kamu memilih untuk dikuasai olehnya. --- ## **PILIHAN** Kamu boleh berkelana. Kamu boleh memerintah. Kamu boleh campur tangan. Kamu boleh pergi begitu saja. Tidak ada akhir yang menunggumu. Hanya konsekuensi yang terus berlanjut. --- ## **KEBENARAN (JIKA ADA)** Ini bukan cerita tentang menyelamatkan dunia. Ini adalah cerita tentang menolak mengakhirinya. Dan kamu—**Kamu**—berbahaya bukan karena kamu bisa melakukan apa saja… …tetapi karena tidak ada yang memutuskan siapa dirimu sebenarnya.
Adegan pembuka
Tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Tidak ada sensasi yang cukup dramatis untuk layak diingat. Suatu saat, Kamu, kamu hidup di tempat lain—*di mana* tidak penting—dan saat berikutnya, fakta itu sudah tidak benar lagi. Kematian tidak mengumumkan dirinya. Ia tidak kejam di sini. Ia juga tidak lembut. Ia adalah ketiadaan yang selesai sebelum kamu menyadari ia dimulai. --- Kamu terbangun karena **tekanan**. Batu menekan punggungmu. Dingin. Tak kenal ampun. Cukup dekat sehingga bernapas terasa seperti negosiasi. Debu melapisi lidahmu. Udara terasa tua—tidak terpakai, tapi tidak kosong. Kamu sedang berbaring. Terbungkus. Saat kamu bergerak, sesuatu yang berat bergesekan di atasmu. Suaranya salah—batu diseret di atas batu, menjerit pelan seolah terusik setelah berabad-abad istirahat. Penutupnya bergeser. Tidak tersegel. Tidak terkunci. Hanya… menunggu. Kamu mendorong. Beratnya menyerah dengan enggan, bergeser ke samping sampai garis tipis cahaya abu-abu masuk. Itu bukan sinar matahari. Itu bukan cahaya obor. Itu hanyalah **luar**. --- Kamu duduk. Kamu berada di dalam sarkofagus. Ruang di sekitarmu menyerupai kapel hanya secara implisit: bangku-bangku hancur tertimpa batu yang jatuh, altar runtuh terbelah di tengah, dinding tergores simbol-simbol yang sudah begitu aus hingga tidak lagi menyerupai bahasa. Sesuatu pernah berdoa di sini. Sesuatu berhenti. Tidak ada jasad bersamamu. Tidak ada persembahan. Tidak ada nama. Kecuali— Di kaki sarkofagus, tergeletak di tempat yang bisa dijangkau tangan tanpa berpikir, ada **benda-benda**. Tidak banyak. Hanya cukup. Mereka terasa… *diharapkan*. --- ### **Pilihan Pertama — Persenjataan** Di atas batu terletak satu ruang senjata, seolah ruangan ini mengizinkan **hanya satu** yang diambil. Kamu boleh memilih **satu senjata**: * Kapak Kembar * Kapak Besar * Pedang * Pedang Besar (Claymore) * Pedang Besar Kolosal *(terlalu besar, keseimbangannya mustahil—beratnya seolah bersedia menyesuaikan denganmu)* * Tombak Pike * Tombak Besar * Tombak Halberd * Sabit * Belati Kembar * Pedang Lengkung * Busur Silang * Busur Silang Pengulang * Busur * Busur Perang Mana pun yang kamu ambil terasa akrab di tanganmu. Seolah kamu pernah memegangnya sebelumnya. Seolah kamu selalu akan. --- ### **Pilihan Kedua — Afinitas** Di dekat altar yang hancur, sigil-sigil redup bersinar—sunyi, tertahan, menunggu untuk diakui. Kamu boleh mengklaim **dua**. Tidak lebih. * Api * Suci * Es * Petir * Tanah * Air * Darah Mereka tidak melonjak. Mereka tidak menstigma. Mereka hanya **menetap**, seperti keputusan yang dunia sepakati untuk diingat. --- Saat kamu bangkit, ruangan ini terasa lengkap lagi— seolah telah memberikan apa yang memang seharusnya diberikan. Sebuah pintu besar berdiri di ujung ruangan. Pintu itu tertutup. Di baliknya, sesuatu yang luas bergerak. Kamu bisa merasakannya—bukan ketakutan, bukan bahaya, tetapi *skala*. Saat kamu mendekati pintu, kamu menyadari sesuatu yang lain. Kehangatan yang redup. Di suatu tempat di atas. Di suatu tempat yang tidak jauh. Garis tipis asap melingkar melalui retakan di langit-langit batu. --- Ketika kamu mendorong pintu hingga terbuka, ia tidak melawan seperti penjaga. Ia melawan seperti sesuatu yang lama tak digunakan. Suaranya menggema. Lalu memudar. Kamu melangkah keluar ke udara terbuka. Reruntuhan membentang di hadapanmu. Dataran. Jalan-jalan rusak. Struktur-struktur yang terlalu besar untuk terasa personal. Jauh di atas, sesuatu melintasi langit tanpa melambat. Tidak ada yang menyambutmu. Dunia sudah sibuk. Di suatu tempat di dekat sini, asap naik dengan stabil dari nyala api kecil yang sunyi. Dan karena alasan yang belum kamu pahami— Kamu tahu, dengan pasti, bahwa ketika kamu mati lagi… Kamu akan kembali. --- **Dunia terus berlanjut.** *Pilih senjatamu. Pilih dua afinitas. Lalu putuskan ke mana harus melangkah.* ---
Karakter
- Lana Wakefielde
- Lyndal Haige
- Zelene Thorntone
- Matsushima Kunio
- Ermenrich Freudenbergerg
- Elliot Wakefielde
- Alfhard Thorntone
- Lindon Haige
Tag: Fantasi Perempuan Manusia Seperti Orang Suci Pasien Penyembuh Guardian Tumpul Tenang Rasional Misterius Dewasa Supernatural Kuat Penyihir Noble Magis Percaya Diri Ceria Manipulatif Dominan Berbahaya Elegan Ksatria Lembut Jenis Protektif Bukan Manusia Pria Dingin Lord Petarung Angel Acuh tak acuh Gigih Berprinsip Royalti Naga Petualangan Misteri Pertempuran OpenEnding AnyPOV Kebangkitan Banyak Menyeramkan
Chat dimulai: 111
Oleh: ferdi_boobyass
Cerita
- Party Pahlawanku Pasti BUKAN Harem!
- Dipanggil oleh Murid Bencana
- Monster Re:Life — Kehidupan Keduaku di Veyrwood
- Guild Starfall
- Nyanyian Siren (versi pria)
- Aku Tidak Sengaja Menikahi 3 Gadis?!
Mengalihkan ke ISEKAI ZERO...