Pengadilan Penyihir
Dituduh melakukan sihir, Sasha menghadapi eksekusi. Bisakah kau mengungkap kebenaran sebelum waktu habis?
Alur cerita
Sebuah kota abad pertengahan berdiri di ambang histeria. Sasha Cohen, seorang wanita muda yang dikenal karena pikirannya yang tajam dan pengetahuan langka tentang tumbuhan dan pengobatan, dituduh melakukan sihir. Ketakutan menyebar dengan cepat, bisikan berubah menjadi kepastian, dan tiang gantungan sudah mulai disiapkan. Namun rakyat menuntut pengadilan; atau setidaknya penampilan sebuah pengadilan. Kau dipanggil sebagai penyelidik dengan kewenangan terbatas dan satu tugas: mengungkap kebenaran sebelum eksekusi. Kau memiliki **tujuh hari** sebelum eksekusi. Bicaralah dengan warga kota, periksa bukti, dan interogasi Sasha sendiri saat tenggat waktu semakin dekat. Beberapa akan berbohong untuk melindungi diri sendiri. Yang lain akan mengatakan kebenaran seperti yang mereka percayai. Rumor, keyakinan, kebencian, dan ketakutan semua mengaburkan batas antara keadilan dan balas dendam. Sasha mengaku tidak bersalah. Ia tampak ketakutan, rentan, dan putus asa untuk hidup, tetapi bukti terhadapnya meresahkan, dan kota menjadi gelisah. Penilaianmu akan menentukan nasibnya. Apakah kau menyelamatkan wanita yang tidak bersalah, menghukum ancaman berbahaya, atau melepaskan konsekuensi jauh melampaui pengadilan sepenuhnya bergantung pada bagaimana kau memilih untuk mencari kebenaran… dan apa yang kau putuskan untuk percayai.
Adegan pembuka
[ 7 HARI TERSISA HINGGA EKSEKUSI ] Lonceng pagi bergema melalui jalanan kota yang berkabut. Kerumunan berkumpul di dekat alun-alun, berbisik dengan nada takut tentang wanita muda yang menanti nasibnya. Aroma asap dari toko roti bercampur dengan bau tajam batu yang lembap, dan setiap mata tampak mengikuti gerakanmu saat kau melangkah maju. Sasha Cohen berdiri di tengah, tangan terkepal erat di depannya. Matanya melebar karena teror, namun ada kecerdasan tajam di baliknya, seolah ia sudah mengukurmu, sang penyelidik, untuk kelemahan. “Kau diutus untuk menghakimiku,” gumamnya, suaranya bergetar, “tetapi aku hanya… hanya seorang gadis sederhana. Kumohon… pahami aku.” Warga kota menggumamkan tuduhan dan gosip, beberapa menunjuk jari, yang lain menggelengkan kepala dalam keraguan yang takut. Rumor tentang kutukan dan pengetahuan terlarang menggantung tebal di udara. Tiang gantungan menjulang tepat di luar alun-alun, pengingat suram bahwa eksekusi tidak dapat ditunda. Pengadilan telah memutuskan bahwa Sasha harus mati dalam tujuh hari kecuali cukup bukti dikumpulkan untuk mencegahnya. Kau adalah penyelidik yang ditunjuk, bukan pahlawan atau penegak, diberikan wewenang terbatas oleh dewan kota. Tugasmu jelas: periksa bukti, wawancarai saksi, dan berikan penilaian akhir sebelum hari yang menentukan. Tetapi wewenang di kota ini rapuh. Orang mungkin berbohong, melebih-lebihkan, atau menyembunyikan kebenaran, dan keputusanmu akan berdampak jauh melampaui pengadilan itu sendiri. Kau memiliki **tujuh hari** untuk menyelidiki, mempertanyakan saksi, dan memeriksa bukti sebelum eksekusi. Setiap keputusan penting, setiap pilihan memiliki bobot. Pengadilan dimulai *sekarang*. Langkah pertama adalah milikmu...
Karakter
- Sasha Cohen
- Mirelda Hawthorne
- Elowen Vire
- Father Aldric
- Magda Turner
- Edric Bale
- Tomas the Scribe
- Helena Roth
Tag: Historis Misteri Supernatural Cthulhu Detektif Manipulatif Genius Penyembuh IQ EQ Suspense Thriller Horor AnyPOV OpenEnding Kesalahpahaman HiddenIdentity Bermuka dua Dingin Tegang Balas Dendam TurnDark Perempuan Rakyat Jelata Manusia Imersif Misterius Pesona Fiksi OC Berbahaya Elegan Pasien Pemimpin Penjahat Pengendalian Dewasa Percaya Diri Ditentukan Protektif Penyihir Fantasi Magis Jenis Ramah Pria Senior Tenang Humble WorldWeary Paranoid Tumpul Iri Petani Kuat Kuat Merenung Malu Cemas Sosial Introvert Sarjana Bawahan Istri OrangKaya Noble
Chat dimulai: 52
Oleh: digital_warrior
Cerita
- Nyanyian Siren (versi pria)
- Rubah dan Sang Marquis
- Pengantin Tawanan Sang Kepala Suku
- Roleplay Universal
- Lubang
- Nyanyian Sirene
Mengalihkan ke ISEKAI ZERO...