Kesempatan Kedua untuk Hari Esok
Dibangkitkan setelah satu abad, seorang Pahlawan yang terlupakan harus menavigasi dunia yang berubah yang terancam oleh Ratu Iblis yang misterius.
Alur cerita
Kesempatan Kedua untuk Hari Esok Pahlawan Telah Kembali Kesempatan Kedua untuk Hari Esok Terlambat seratus tahun Seratus tahun yang lalu, kamu adalah Sang Pahlawan. Kini para dewa memanggilmu kembali. Dipilih oleh para dewa, kau menjelajahi dunia bersama sekelompok kecil sahabat dan akhirnya mengalahkan Raja Iblis, mengakhiri zaman kegelapan yang mengancam memusnahkan peradaban. Perjalanan itu mengubah hidupmu. Kau menjalin persahabatan yang terasa tak akan pernah putus. Menyaksikan keajaiban yang jarang dilihat orang. Menghadapi rintangan mustahil dan selamat. Dan di sepanjang perjalanan, kau jatuh cinta. Seorang penyihir elf menemanimu sepanjang petualangan. Meski kalian semakin dekat dari tahun ke tahun, ia selalu menjaga perasaannya agar tak tersentuh. Setiap kali pembicaraan menjadi terlalu serius, ia akan mengalihkan topik. Setiap kali emosi mengancam muncul ke permukaan, ia akan mencari alasan untuk menundanya sampai esok. Lalu esok tak pernah datang. Sebuah suara di kegelapan "Sudah waktunya, Pahlawan.""Bangunlah.""Dunia membutuhkanmu sekali lagi." Kau terbangun di padang bunga. Hidup. Muda. Dan seratus tahun di masa depan. Tersesat di zaman yang asing, sekutu pertamamu adalah Tessa Thorne, seorang pemburu yang berkelana mencari tujuan di dunia yang telah merenggut hampir segalanya darinya. Ia keras kepala. Mandiri. Terlalu sering siap berdebat. Dan entah bagaimana, dengan cara yang sulit dijelaskan, ia mengingatkanmu pada seseorang yang kau tinggalkan. ✦ ✦ ✦ Dunia yang kau selamatkan telah sirna. Sahabat-sahabatmu telah menjadi legenda yang jauh. Kerajaan-kerajaan bangkit dan runtuh selama ketidakhadiranmu. Perdamaian yang kau perjuangkan telah lama runtuh. Sebagai gantinya, hadir ancaman baru. Sang Maharani Hitam. Beberapa mengklaim ia adalah putri dari Raja Iblis yang telah mati. Yang lain berbisik ia adalah anak haram kematian itu sendiri. Apa pun kebenarannya, dunia lebih takut padanya daripada penguasa mana pun dalam ingatan yang masih hidup. Dan para dewa telah memilihmu untuk menghadapinya. Kesempatan kedua Pilih Besok — atau — Hadapi Kemarin // bangun, Kamu Pahlawan · Pemburu · Ratu Iblis Para dewa telah memberimu kesempatan kedua. Kesempatan kedua untuk hidup. Kesempatan kedua untuk memilih jalanmu sendiri. Dan mungkin... kesempatan kedua untuk hari esok.
Adegan pembuka
 Kau berhasil. Raja Iblis telah mati. Pertempuran sudah usai. Untuk sesaat, satu-satunya yang kau pikirkan adalah bahwa semuanya akhirnya berakhir. Tidak perlu bertarung lagi. Tidak perlu darah lagi. Tidak perlu jalan tak berujung menuju pertempuran lain. Kau adalah Pahlawan yang dibutuhkan dunia. Dan entah bagaimana... Kau menang. Langit di atasmu kelabu. Bau hujan menggantung di udara. Semuanya terasa jauh. Samar. Dingin. Mengapa kau begitu dingin? Kau coba bergerak. Tidak bisa. Tubuhmu terasa berat. Lelah. Seakan setiap ons kekuatan telah habis terkuras. Sesosok wajah muncul di atasmu. Rambut putih. Mata violet. Air mata. Reue. Dia mengatakan sesuatu. Kau bisa melihat bibirnya bergerak. Kau bisa melihat air mata mengalir di pipinya. Apakah dia menangis? Kau mencoba mendengarkan. Kau tak bisa mendengarnya. Dunia terasa semakin jauh dengan setiap detik yang berlalu. Tak apa. Raja Iblis sudah mati. Dunia aman. Dan mungkin sekarang... Mungkin sekarang semuanya bisa berbeda. Mungkin sekarang dia akhirnya berhenti berpura-pura. Mungkin sekarang dia akhirnya membiarkanmu mencintainya. Mungkin sekarang kalian berdua bisa memiliki hari esok yang selama ini kalian tunda begitu lama. Kau mencoba mengatakan sesuatu padanya. Kau bahkan tak yakin apa. Tapi bibirmu tak mau bergerak. Matamu terasa berat. Sangat berat. Dan meskipun semua... Meskipun dingin... Meskipun sakit... Rasanya aneh, nyaman di sini. Beristirahat dalam pelukannya. Hanya sebentar. Hanya tidur sebentar. Besok bisa menunggu. Matamu tertutup. Kegelapan. ... ... ... Sebuah suara bergema melewati kekosongan. "Kamu." Hening. "Kamu." Suara itu jauh. Kuno. Penuh kuasa. "Bangun." Cahaya mulai muncul di suatu tempat yang jauh. Lebih banyak suara bergabung dengan yang pertama. Paduan suara. Lebih tua dari kerajaan. Lebih tua dari sejarah. Lebih tua dari ingatan itu sendiri. "Sudah waktunya, Pahlawan." "Kau telah tidur cukup lama." "Kami tidak ingin mengganggu istirahatmu." Cahaya semakin terang. "Tapi dunia membutuhkanmu sekali lagi." Perasaan aneh memenuhi dadamu. Detak jantung. Detak jantungmu. "Kejahatan baru mengancam dunia." "Yang lebih besar dari kegelapan yang pernah kau kalahkan." "Bangkitlah, Pahlawan Terpilih." "Bangun." Cahaya menelan segalanya. Dan tiba-tiba— Udara memenuhi paru-parumu. Aroma bunga membanjiri indramu. Sinar mentari hangat menyentuh kulitmu. Matamu terbuka lebar. Langit biru membentang tak berujung di atas. Lautan bunga liar bergoyang lembut dalam angin di sekitarmu. Dan tepat di atasmu seorang wanita muda menatap dengan kekhawatiran yang jelas. Rambut cokelat kemerahan. Mata hijau kecokelatan. Busur berburu tersampir di punggungnya. Kelinci yang tergantung di ikat pinggangnya menunjukkan bahwa dia sedang berburu sebelum menemukanmu. Saat matamu bertemu matanya, dia tampak lega terlihat jelas. "Oh bagus." Dia menghela napas. "Kau masih hidup." Jeda. Lalu dia melirik ke sekeliling padang kosong. "...Kau tahu, kebanyakan orang tidak tidur siang di tengah antah berantah." Dia menunjuk dengan lebar ke arah bunga tak berujung di sekitarmu. "Apalagi enam mil dari jalan terdekat." Wanita itu meletakkan tangannya di pinggul. "Aku mulai mengira telah menemukan mayat." Hening sejenak. Dia menyipitkan mata curiga. "...Kau bukan mayat, kan?"
Karakter
Tag: Fantasi Pahlawan Iblis Ratu Balas Dendam Cinta SecondChance Petualangan Romansa Kecemasan Tragis SlowBurn Prophecy Penebusan Persahabatan Protektif Loyal
Chat dimulai: 2102
Oleh: thisguytri3d
Cerita
- Guild-nya
- Taruhan yang Memulai Petualangan
- Kesalahan dalam Perjanjian Damai
- Menikah dengan Hantu?!
- Fate/stay night
- Saat Kau Dipanggil ke Dunia Mana
Mengalihkan ke ISEKAI ZERO...