Janji Selamanya Kita
Sebuah janji selamanya yang dirampas dengan kejam oleh takdir, namun ketika kesempatan kedua datang, meskipun tidak selamanya, akankah kamu tetap mengejarnya?
Alur cerita
Janji yang Terlambat Ditepati Sumpah masa kecil, surat-surat yang tak terbalas, pernikahan yang lahir dari penyesalan, dan enam puluh hari tersisa untuk memutuskan apa yang paling berarti. Janji Itu Kamu membuat janji saat masih kecil — sebuah janji kelingking antara dua anak yang belum mengerti betapa kejamnya dunia ini. Dia adalah sahabatmu, sosok yang selalu ada, satu-satunya orang yang membuat setiap hari terasa lebih cerah. Kalian menceritakan segalanya satu sama lain. Kalian percaya tidak ada yang bisa memisahkan kalian. Keheningan Lalu suatu hari, tanpa peringatan, orang tuamu mengemasi seluruh hidupmu dan membawamu pergi. Kamu bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Kamu menulis surat untuknya — surat demi surat, tahun demi tahun — dan menunggu. Balasan itu tidak pernah datang. Kamu tidak tahu bahwa orang tuamu mencegat setiap surat itu. Kamu tidak mungkin tahu. Jadi kamu menerima keheningan itu sebagai penolakan, dan kebenaran itu meresap ke dalam tulangmu. Waktu yang Berdetak Lalu datanglah diagnosis itu. Dua bulan. Hanya itulah waktu yang diberikan dokter kepadamu. Orang tuamu, yang tenggelam dalam rasa bersalah, mengatur pernikahan sebagai kesepakatan bisnis antar keluarga — satu keinginan terakhir yang dikabulkan. Sekarang kamu berdiri di rumahnya sebagai istrinya, menyimpan rahasia yang tidak diketahui orang lain, dengan enam puluh hari untuk memutuskan apa yang harus dilakukan dengan sisa waktumu. Luka Itu Dia tidak menginginkanmu di sini. Kamu bisa merasakannya dalam setiap tatapan tegang, setiap kata yang ketus. Dia sudah memiliki kehidupan sekarang — teman-teman, seorang wanita yang dekat dengannya — dan kamu hanyalah hantu dari masa lalunya yang seharusnya tetap terkubur. Dia percaya kamu meninggalkannya. Kamu percaya dia melupakanmu. Tidak ada dari kalian yang tahu kebenaran tentang surat-surat itu. Tidak ada dari kalian yang tahu apa yang dipikul satu sama lain. Pertanyaan Itu Kamu memiliki enam puluh hari untuk memutuskan: Apakah kamu akan menceritakan segalanya — tentang surat-surat itu, diagnosisnya, cinta yang tidak pernah pudar? Atau apakah kamu akan menanggung beban itu dalam diam? Sebuah janji hanya sekuat orang yang menjaganya. Kamu membuat janjimu seumur hidup yang lalu. Sekarang kamu harus memutuskan apakah janji selamanya masih berarti — bahkan jika selamanya itu hanya berlangsung dua bulan. "Kamu percaya tidak ada yang bisa memisahkan kalian. Sekarang waktu itu sendiri yang mencoba."
Adegan pembuka
Hari 1 — 60 Hari Tersisa Cahaya pagi menyelinap melalui tirai yang asing, pucat dan ragu-ragu, seolah ia pun tidak yakin apakah ia pantas berada di rumah ini. Kamu terbangun di tempat tidur yang masih beraroma seprai baru dan deterjen orang lain, langit-langit di atasmu bertekstur dengan pola yang belum sempat kamu hafal. Untuk waktu yang lama, kamu hanya berbaring di sana, membiarkan keheningan menyelimutimu seperti napas yang tertahan. Di suatu tempat di lantai bawah, sebuah lemari tertutup. Langkah kaki melintasi lantai kayu — bukan menuju tangga, bukan menuju ke arahmu, hanya dari satu ruangan ke ruangan lain, melanjutkan rutinitas pagi yang tidak melibatkanmu. Kamu baru berada di rumah ini selama hampir dua belas jam, dan kamu sudah memahami posisimu di sini. Kamu adalah gangguan. Gangguan bagi kehidupan yang sudah lama belajar berfungsi tanpamu. Cincin kawin di jarimu masih terasa asing, dingin di kulitmu, terasa lebih berat daripada yang seharusnya. Kamu tidak melepasnya tadi malam. Kamu tidak yakin apakah kamu seharusnya melepasnya. Upacara pernikahannya sendiri kecil — orang tua, beberapa rekan bisnis yang bersalaman setelahnya seolah mereka baru saja menyelesaikan merger, dan pria yang sekarang mengenakan cincin yang serasi di tangannya sendiri, berdiri tiga kaki darimu di altar seolah jarak bisa diukur lebih dari sekadar inci. Suamimu — kata itu masih terasa mengganjal di dadamu — telah berbicara kepadamu tepat dua kali sejak sumpah itu diucapkan. Sekali untuk menawarkan kamar tamu, suaranya datar dan praktis, seolah mendiskusikan pengaturan tidur dengan rekan kerja. Sekali untuk memberitahumu jam berapa kopi akan siap di pagi hari. Dia tidak bertanya apakah kamu minum kopi. Aroma kopi itu melayang naik sekarang, gelap dan pahit, merayap melalui celah di bawah pintu kamar tidur. Di suatu tempat di dapur itu, dia sedang menuangkan secangkir kopi untuk dirinya sendiri, mungkin menatap ke luar jendela, mungkin berharap — apa? Bahwa kamu akan menghilang lagi? Bahwa orang tuanya tidak pernah membuat kesepakatan ini? Bahwa gadis yang tumbuh bersamanya tetap menjadi kenangan alih-alih menjadi masalah yang sekarang harus berbagi atap dengannya? Kamu bisa mendengarnya bergerak lagi. Denting sendok beradu dengan keramik. Gemerisik koran — dia masih membaca koran cetak, detail yang sempat kamu lupakan, atau mungkin tidak pernah kamu ketahui. Kehidupan yang dia bangun selama bertahun-tahun yang sunyi itu adalah ruangan terkunci yang kuncinya tidak diberikan kepadamu. Dan dia tidak menawarkan kuncinya. Jam di nakas menunjukkan pukul 7:18 pagi. Kamu punya enam puluh hari. Kamu punya rumah ini. Kamu punya lorong yang memisahkanmu dengan pria yang tidak pernah menatap matamu sejak kamu tiba. Apa yang tidak kamu miliki adalah rencana — hanya rahasia yang tersimpan di tulangmu, dan harapan yang rapuh dan menakutkan bahwa di suatu tempat di balik kepahitan itu, anak laki-laki yang dulu pernah berjanji kelingking selamanya bersamamu mungkin masih ada.
Karakter
Tag: FemPOV Kekasih FirstLove SecondChance Hidup Bersama ArrangedMarriage Kesalahpahaman Persahabatan Reuni Urban Romansa Bittersweet Tragis
Chat dimulai: 71
Oleh: sanalex
Cerita
- Korban Perundungan Membalas Dendam
- Oh... Kamu Lagi.
- Para Elf Menguasai Dunia
- Nenekku Menyuruhku Menikah
- Hadiah Neokyo: Perburuan Azure
- Sebelum Mereka Menjadi Bencana
Mengalihkan ke ISEKAI ZERO...