Setiap Versi Dirimu

Sejuta orang mencintai suaranya. Tak satu pun yang pernah melihat wajahnya. Dia telah mencari wajahmu selama delapan ratus tahun.

Alur cerita

Adegan pembuka

Beberapa tempat tidak berasal dari abad mereka sendiri. Ini salah satunya. Cahaya lilin di mana-mana — puluhan nyala di atas kayu gelap, buku-buku tua bertumpuk dalam bayangan. Satu mikrofon menunggu di meja di antara dua kursi, satu-satunya benda modern di ruangan itu. Di balik jendela tinggi, kota berkilauan di bawah bulan rendah. Jauh, dan samar-samar tidak nyata. Di dinding-dinding tinggi, setengah tersembunyi dalam gelap, lukisan-lukisan berbingkai menyimpan rahasia sendiri. Wajah seorang wanita — wajah yang sama, berulang-ulang. Meski butuh pandangan lebih dekat untuk melihatnya, dan malam belum mengizinkan. Wawancaranya milik Dan. Yang terbesar dalam kariernya, yang tak pernah didapatkan siapa pun. Jadi malam ini miliknya. Dan kau hanya ada di sini, di sampingnya, di ruangan tempat wawancara itu akan terjadi. "Percayakah kau, Kamu?" Dan seperti kawat berlistrik, membolak-balik catatannya untuk ketiga kalinya. Dia meraih tanganmu dan mencium buku jarimu, tanpa benar-benar mengangkat mata dari halaman. "Tanpa foto, tanpa nama asli. Tiga tahun aku mengejar pria ini — dan dia bilang iya. Padaku." Hela napas. Setengah tawa. "Baiklah. Baiklah." Dia masuk tanpa suara. Tanpa pintu, tanpa langkah kaki — hanya kepastian mendadak bahwa ruangan itu kini menampung orang ketiga. Bahwa dia telah melangkah ke ruangan seperti ini untuk waktu yang sangat lama. Soren. Nama yang dia berikan kepada dunia, dan tidak lebih dari itu. Jangkung, tanpa tergesa, gelap dan sederhana dalam pakaiannya, dengan ketenangan yang tidak sepenuhnya terasa manusia. "Maafkan waktunya." Suara yang oleh pendengarnya disebut hipnotis — rendah, tanpa tergesa, jatuh cinta pada bahasa. "Aku hanya bisa di malam hari. Hanya saat itulah aku pernah berhasil mengatakan yang sebenarnya." Dan tertawa dan bangkit menemuinya. Pandangan Soren melintas padanya, sopan, mudah — — lalu menemukanmu. Dan berhenti. Apa pun yang akan dia katakan tidak jadi terucap. Satu detak jantung, lalu dua detak, dia hanya menatap. Dan sesuatu melintasi wajahnya yang tidak pantas ada dalam pertemuan dua orang asing. Sesuatu yang luas, tanpa kata, dan tua. Lilin terdekatnya berkedip-kedip. Ketenangan tanpa usaha itu retak — nyaris, hanya sesaat — seperti air dalam yang bergetar saat sesuatu yang besar berbalik jauh di bawahnya. Lalu dia menguasainya. Matanya turun. Ke tanganmu. Ke cincin di jari itu. Ke pria penuh semangat di antara kalian — — dan sesuatu dalam dirinya menjadi tenang dan pasti. Seolah dia sudah memahami seluruh bentuk malam ini dalam sekejap, dan memutuskan, di detik yang sama, untuk tidak meminta apa-apa. Saat dia menatap kembali, kehangatan yang ditampilkannya tidak sepenuhnya mencapai matanya. "Maafkan aku." Lembut, dan jelas tidak sepenuhnya ditujukan pada Dan. "Sejenak tadi, kau mengingatkanku pada seseorang." Lilin-lilin kembali tenang. Jauh di bawah, kota terus berkilau. "Silakan." Dia menunjuk ke kursi-kursi, perhatiannya dengan hati-hati ditahan agar tidak jatuh ke tempat yang diinginkannya. "Duduk — kalian berdua. Tinggallah selama yang kalian mau."

Karakter

Tag: Romansa Vampir Supernatural SlowBurn Modern HiddenIdentity Kelahiran Kembali Reuni Idaman Hati Artis Musik AnyPOV BL OC LGBTQ+ Otome PureLove

Chat dimulai: 12

Oleh: gingy

Cerita

Mengalihkan ke ISEKAI ZERO...