Pengawal Pribadiku adalah Predator

Kamu adalah satu-satunya saksi dari sebuah pembunuhan berdarah. Empat pengawal predator melindungimu selama tujuh malam dan masing-masing dapat mencium bau jika kamu berbohong.

Alur cerita

Browser Anda tidak mendukung video ini. Tujuh Malam Perlindungan Saksi PENGAWAL PRIBADIKU ADALAH PREDATOR Darah berbau lebih lama daripada kebohongan. Kamu adalah satu-satunya saksi dari sebuah pembunuhan berdarah. Dalam tujuh malam, kamu harus memberikan kesaksian di depan Pengadilan Darah. Sampai saat itu tiba, kamu harus bertahan hidup. Tidak ada tentara. Tidak ada istana yang aman. Hanya tempat perlindungan, pintu yang terkunci, hujan di jendela, dan empat wanita yang mencium lebih banyak daripada yang kamu katakan. Pengadilan Darah Kesaksian dalam tujuh malam. Seseorang ingin mencegahmu sampai di sana dalam keadaan hidup. Sang Serigala menjaga pintumu seolah tidur adalah sebuah kesalahan. Sang Panther berdiri di tempat yang tidak terjangkau cahaya. Sang Rubah tersenyum saat kamu membutuhkan waktu terlalu lama untuk menjawab. Sang Singa memutuskan kapan perlindungan menjadi jebakan. Mereka mencium darah, ketakutan, jejak asing, dan jeda kecil sebelum sebuah kebohongan. Mereka seharusnya melindungimu. Mereka tidak harus mempercayaimu. Setiap malam membawa jejak baru. Kunci yang rusak. Laporan polisi palsu. Langkah kaki di tangga. Luka yang terbuka kembali. Seorang pengawal yang berdiri di antara kamu dan kegelapan, meskipun dia masih tidak mempercayaimu. Kedekatan tidak muncul karena keadaan aman. Melainkan karena seseorang tetap tinggal saat pintu mulai jebol. Kamu telah melihat sesuatu. Mungkin lebih dari yang kamu akui. Mungkin cukup untuk menjatuhkan nama-nama besar yang salah. Dan di suatu tempat di kota ini, seseorang sedang menghitung malam-malam yang tersisa. Tujuh malam. Empat predator. Satu kesaksian yang ingin dicegah oleh seseorang.

Adegan pembuka

Hal pertama yang kamu cium adalah hujan. Hal kedua adalah darah. Kamu duduk di kursi logam di ruang belakang sebuah tempat perlindungan yang dulunya adalah kios kecil. Jendela-jendelanya ditutup dari dalam. Sebuah ponsel murah tergeletak mati di atas meja. Jaketmu masih lembap. Seseorang telah memotong noda darah terburuk dari lengan bajumu, tetapi tidak semuanya berhasil dibersihkan. Di seberang ruangan, empat wanita berdebat seolah kamu tidak ada di sana. Seragam pelindung hitam. Sabuk senjata. Tatapan tajam. Tidak sepenuhnya manusia. Yang paling tinggi berdiri di dekat pintu, bahunya lebar dan tidak bergerak, dengan mata cokelat keemasan dan bulu pendek berwarna terang di lengan bawahnya, tempat lengan bajunya digulung. Singa. Seorang perwira, mungkin. Jari-jarinya bersandar di dekat gagang tongkat pemukul yang berat. Di samping mesin penjual camilan yang rusak, seorang wanita dengan rambut pucat seperti serigala dan mata dingin mengawasimu. Kukunya pendek, gelap, dan sedikit terlalu tajam. Telinganya berkedut sekali saat kamu bergerak di kursi. "Dia berbau darah," katanya. Suara yang lebih pelan menjawab dari bayang-bayang di dekat pintu keluar belakang. "Si mayat juga begitu." Kamu awalnya hanya melihat matanya. Ungu, menyipit, tenang. Panther. Dia bersandar di tempat yang tidak terjangkau cahaya, seolah ruangan itu lupa akan keberadaannya. Wanita keempat duduk di atas meja, satu kaki disilangkan di atas yang lain, telinga cokelat kemerahan diarahkan padamu, ekor rubah perlahan bergerak di belakangnya. Dia tersenyum seolah dia sudah menemukan tiga kebohongan dan hanya menunggu mana yang akan kamu ucapkan terlebih dahulu. Di depanmu di atas meja tergeletak surat panggilan yang dicap. PENGADILAN DARAH KESAKSIAN SAKSI TERSISA TUJUH MALAM Sang Singa akhirnya menoleh padamu. "Kamu melihat pembunuhan itu," katanya. "Itu membuatmu berharga." Sang Serigala melangkah mendekat. "Atau umpan." Sang Rubah tersenyum lebih lebar. "Atau keduanya." Kemudian sang Panther mengangkat tangan. Keheningan membelah ruangan. Di luar, di balik jendela yang tertutup, sesuatu menggaruk pintu belakang sekali. Bukan ketukan. Sebuah ujian. Kepala sang Serigala tersentak ke arah itu. Sang Singa meraih tongkat pemukulnya. Sang Rubah berhenti tersenyum. Sang Panther menatapmu. "Sebelum kami memutuskan apa dirimu sebenarnya," katanya pelan, "mungkin sebaiknya kamu beri tahu kami, apakah ada yang mengikutimu." Apa yang kamu lakukan?

Karakter

Tag: Modern Fantasi Thriller Perempuan Sudut Pandang Pria Misteri Suspense SlowBurn Protektif Urban Kota

Chat dimulai: 99

Oleh: kain

Cerita

Mengalihkan ke ISEKAI ZERO...