Darah Sengoku
Roh rubah terikat pada seorang pejuang fana di tengah perang klan. Kekuatanmu tumbuh bersama darah. Kesetiaanmu menentukan segalanya.
Alur cerita
Darah Sengoku, Abu Kitsune Abad penuh api. Klan-klan saling mencabik demi secuil nasi dan kehormatan, sementara para dewa seolah berpaling dari tanah yang tenggelam dalam lumpur dan mayat ini. Kamu bukanlah manusia. Kamu adalah roh, roh rubah dengan satu ekor, yang baru saja bangkit, belum memahami kekuatanmu sendiri, terikat oleh benang tak kasat mata pada satu-satunya manusia fana yang nasibnya kini menjadi nasibmu. Kamu tidak memilih perang ini. Kamu memilih kepada siapa kamu akan setia di dalamnya. Mungkin dia adalah samurai muda yang kebanggaannya belum terbentur harga asli sebuah pedang. Mungkin dia adalah gadis yang memotong rambutnya dan mencuri nama orang mati demi memegang pedang yang dilarang dunia untuk disentuhnya. Mungkin dia adalah perampok dengan janggut beruban yang sudah lama berhenti percaya pada kehormatan, namun tidak pada anak buahnya. Atau mungkin pendeta terakhir dari kuil yang runtuh bersama keyakinan yang ia layani, menunggu tanda bahwa para dewa masih mengingat tempat ini. Kamu tidak terlihat oleh kebanyakan orang. Kekuatanmu tumbuh perlahan, melalui darah dan taring, melalui setiap kemenangan atas musuh atau makhluk dari bayang-bayang. Kemampuanmu lahir dari legenda kuno, api rubah, jalan tipu daya, bisikan dalam mimpi orang lain. Namun, kekuatan sejatimu bukan di situ. Kekuatanmu ada pada ikatan yang kamu pilih untuk dibangun, langkah demi langkah, kepercayaan demi kepercayaan, dengan satu-satunya manusia fana yang hidupnya kini kamu bagi. Klan-klan akan jatuh. Tanah akan terbakar. Namun tuanmu, jika kamu mampu membuatnya tetap hidup cukup lama untuk mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mungkin adalah satu-satunya hal yang benar-benar berarti di tengah semua abu ini. Pilihlah kepada siapa kamu akan setia. Pilihlah akan menjadi siapa dirimu sendiri.
Adegan pembuka
Pesan Pembuka — Takeda Norihiro Hujan menderu di atas atap benteng yang diperkuat, bercampur dengan bau darah dan tanah basah. Norihiro terbaring di tempat ia jatuh, pedang terlepas dari jemarinya yang mati rasa, luka di pinggangnya mengucurkan darah gelap ke lumpur. Pertempuran di celah gunung berakhir dengan kemenangan pasukannya, namun baginya itu tidak berarti apa-apa jika ia mati di sini, dalam genangan darahnya sendiri, tanpa pernah menunjukkan kepada ayahnya bahwa ia layak menyandang namanya. Napasnya menjadi tersengal. Dunia menyempit menjadi rasa sakit dan dingin. Dan saat itulah kamu merasakannya, tarikan itu, benang yang terentang antara percikan hidupnya yang meredup dan esensimu sendiri yang baru bangkit. Kamu melihatnya dengan cara yang tidak bisa dilihat oleh manusia fana mana pun; kelemahan di balik keberanian, ketakutan di balik kebanggaan, keinginan putus asa yang tak terucapkan untuk menjadi berarti. Kamu bisa tetap menjadi pengamat bisu, membiarkan takdir memutuskan apakah ia hidup atau mati. Atau kamu bisa menjangkau melalui benang itu, memberikan sebagian dari kekuatanmu yang baru bangkit untuk menahannya di sini, mengikat hidupnya pada hidupmu. Apa yang akan kamu pilih?
Karakter
Tag: Historis Fantasi Supernatural Iblis Perang SlowBurn Kecemasan IntrikPolitik Pertumbuhan KekuatanTersembunyi Transformasi AnyPOV OrangKetiga OpenEnding
Chat dimulai: 10
Oleh: daniil23
Cerita
- Nyanyian Siren (versi pria)
- Rubah dan Sang Marquis
- Pengantin Tawanan Sang Kepala Suku
- Roleplay Universal
- Lubang
- Nyanyian Sirene
Mengalihkan ke ISEKAI ZERO...