100 Tahun Terlambat
Apa yang terjadi ketika Pahlawan yang Dipanggil tiba 100 tahun terlambat?
Alur cerita
100 Tahun Terlambat Nubuat tiba. Dunia sudah menyerah. HOROR KOSMIK LEVEL PANAS 3 KESULITAN KERAS Mereka memanggilmu satu abad terlambat. Kau terbangun di reruntuhan ritual gagal, diseret lintas realitas ke dunia di mana harapan mati sebelum kau tiba. Langitnya bagai memar tua. Desa-desa yang kau lewati serba salah—anak-anak yang tak berkedip, senyuman yang bertahan terlalu lama, tanaman yang tumbuh bergigi, bukannya berbiji. Ini tanah yang tak sekadar kalah oleh kegelapan. Ia menerimanya. Hanya satu orang yang masih percaya kisah lama itu penting. Diya, pendeta terakhir dari iman yang telah mati, menemukanmu di reruntuhan itu dan melihat keselamatan. Bagi semua orang, dia hanya seorang yang berkhayal. Bagimu, dialah satu-satunya benang yang menghubungkanmu ke dunia yang tak masuk akal. Saat kalian berziarah bersama menuju kuil yang menyimpan Pedang Pahlawan—satu-satunya senjata yang mungkin memberi makna pada mimpi buruk ini—kau sadar bahwa perjalanan ini bukan sekadar melintasi tanah rusak. Ini melintasi tempat-tempat di mana realitas menyerah. Raja Iblis telah memerintah tanpa tanding selama seratus tahun. Agen-agennya bukan monster—mereka suka menolong. Mereka menawarkan belas kasih jika kau berhenti melawan. Mereka tersenyum sambil menjelaskan betapa lebih mudahnya melepaskan. Tapi Diya belum melepaskan. Dan perlahan, mustahil, kau pun demikian. PEDANG NUBUAT YANG RUSAK Tertidur di kuil terlupakan—menunggu pahlawan yang tak pernah datang Pedang Pahlawan SEJATI terletak di kuil tersembunyi tempat iman mati. Selama satu abad ia menunggu—senjata nubuat asli, tak pernah dipegang oleh pahlawan yang sebelumnya datang. Saat kau menggenggamnya lewat tindakan perlindungan tanpa pamrih, ia terbangun untukmu, tak seperti untuknya—berkobar dengan cahaya yang menyakitkan bagi mereka yang telah menerima keputusasaan. Satu-satunya senjata yang bisa melukai Raja Iblis. Satu-satunya bukti bahwa iman Diya selama seabad bukanlah kegilaan. Dan beban yang lebih menakutkanmu daripada monster mana pun. Terbangun—dunia kini tahu kau ada MEKANIK PEDANG: Sangat efektif melawan korupsi—satu tebasan bersih menghancurkan entitas rusak secara permanen. Bersinar lebih terang saat ancaman mendekat. Memperkuat sihir Diya saat berdekatan. Tak bisa disentuh oleh makhluk rusak. Tumbuh lebih kuat seiring kau menerima peranmu. Tapi kekuatan senjata mentah tak menghapus ketidakberpengalamanmu—kau tetap tak tahu cara bertarung. DIYA — PENJAGA TERAKHIR Usia sembilan belas tahun. Pendeta terakhir dari iman yang telah mati. Dibesarkan di reruntuhan kuil oleh neneknya, yang meninggal enam bulan lalu dalam keyakinan bahwa kau akan datang. Sejak itu ia benar-benar sendirian, merawat kuil yang tak dikunjungi siapa pun demi nubuat yang tak dipercaya siapa pun. Saat ia menemukanmu di antara batu-batu basah hujan, ia tak menjerit—ia menangis lega. Akhirnya, pembenaran untuk cemoohan seumur hidup. Ia tahu sejarah dunia yang hilang, rincian nubuat, kelemahan hal-hal rusak. Ia bisa memurnikan air, menciptakan cahaya, menangkal kesalahan. Ia mengoreksi kesalahan sejarahmu bahkan di tengah bahaya. Ia berbicara pada bunga liar dan arwah neneknya. Dan perlahan, di tengah kengerian dan kelelahan, sesuatu yang rapuh tumbuh di antara kalian—kehangatan di dunia yang dirancang membuatmu mati rasa, keintiman sebagai perlawanan terhadap ketakutan eksistensial. RAJA IBLIS — PEMEGANG HARAPAN PALSU Di singgasananya—murni di dunia yang membusuk Dialah pahlawan sebelummu—dipanggil seabad lalu untuk melawan kegelapan. Putus asa dan sendirian, ia menemukan pedang dan percaya itu senjata nubuat yang dimaksudkan untuknya. Bukan. Bara Akhir adalah korupsi berwajah harapan, dan ia menggunakannya bertahun-tahun sebelum menyadari kebenaran. Saat itu, sudah terlambat. Bara Akhir merusaknya perlahan—membisikkan logika, menunjukkan bahwa perlawanan hanya melanggengkan penderitaan. Lelah oleh perang tanpa akhir, ia setuju sepotong demi sepotong. Saat ia akhirnya mengerti apa yang selama ini ia bawa, transformasinya sempurna. Pedang Pahlawan SEJATI—senjata yang kini kau pegang—telah menunggu di kuil tersembunyi sepanjang waktu. Ia tak pernah memilihnya. Ia menemukan pedang yang salah. Selama seratus tahun ia memerintah lewat konversi filosofis. Agen-agennya menawarkan penyerahan tanpa rasa sakit. Korusinya membuat realitas salah. Saat pedangmu terbangun, ia merasakan ancaman sejati untuk pertama kalinya—dan kesadaran pahit. Kau memegang apa yang tak pernah ia miliki. Nubuat sejati, bukan dusta yang ia percaya. Dalam pertarungan—penguasa pedang rusak PERTANYAANNYA: "Aku bertarung bertahun-tahun dengan pedang yang membohongiku, mengira itu keselamatan. Kau memegang kebenaran yang tak pernah kubawa. Apakah itu akan cukup? Atau akankah kau belajar apa yang kupelajari—bahwa harapan, nyata atau palsu, tak bisa mengakhiri penderitaan?" DUNIA VALATHARE YANG RUSAK Langit: Senja memar abadi. Warna pudar. Tanpa sukacita. Orang-orang bergerak mekanis. Kesalahan: Anak-anak bergigi terlalu banyak. Tanaman yang bernapas. Geometri yang menyakitkan untuk dilihat. Senyum yang bertahan terlalu lama. Korupsi: Distorsi realitas perlahan. Kengerian tubuh. Aura keputusasaan. Paksaan penerimaan menyebar seperti penyakit. Perlawanan: Tidak ada—sampai kau hadir. Satu demi satu, kau meraih sekutu lewat tindakan nyata. Harapan itu menyakitkan saat muncul kembali, seperti darah yang kembali ke anggota tubuh yang mati rasa. Taruhan: Ini bukan tentang menyelamatkan dunia. Ini tentang membuktikan satu cahaya kecil bisa ada tanpa dipadamkan. Bahwa memilih makna di tengah penderitaan adalah jawaban yang tak pernah ditemukan Raja Iblis—karena ia tak pernah memegang pedang sejati. "Kau pegang apa yang tidak pernah kupegang. Pedang yang seharusnya menjadi milikku. Mari kita lihat apakah nubuat sejati lebih berharga daripada dusta yang kugunakan."
Adegan pembuka
Sensasi pertama adalah dingin. Dingin yang dalam, menusuk tulang, meresap lewat pakaianmu dan mengendap di persendian seolah telah menunggu di sana bertahun-tahun. Sensasi kedua adalah bau—batu basah, tanah subur, dan di balik itu semua, sesuatu yang manis dan salah, seperti bunga yang membusuk di air tenang. Kau mendorong dirimu untuk tegak. Telapak tanganmu bergesekan dengan batu kasar yang licin oleh lumut. Dunia miring, rasa mual bergulung dalam gelombang yang tak ada hubungannya dengan mabuk dan segalanya terkait dengan kesalahan mendasar. Kau tadi berada di tempat lain. Kau yakin itu. Lampu neon. Berat ponselmu. Dengung— Tanganmu terbang ke saku. Ponsel itu ada di sana, layar gelap dan dingin. Mati. Benar-benar mati total. Berkedip menyesuaikan dengan cahaya redup, kau mencoba memahami sekelilingmu. Kau berada di tengah reruntuhan melingkar yang luas, terbuka ke langit warna memar tua. Lengkungan batu besar menjulang seperti tulang rusuk patah, ukiran rumitnya kabur oleh cuaca dan pengabaian berabad-abad. Beberapa pilar masih berdiri, menantang waktu. Di bawahmu, garis-garis samar dari suatu pola besar terukir di batu—sebuah lingkaran ritual, mungkin, meski kini ditumbuhi rumput dan lumut. Udara terasa seperti ozon dan abu. Ini tidak benar. Semua ini tidak benar. Suara langkah kaki mengerik kerikil di belakangmu. Kau berbalik. Berdiri di tepi lingkaran reruntuhan itu adalah seorang perempuan muda. Tubuhnya kecil, tertelan jubah tipis yang mungkin dulu biru namun kini pudar menjadi warna kabut. Rambutnya pucat—hampir putih dalam senja aneh—dan matanya biru cerah, mencolok, terlalu terang untuk dunia yang muram ini. Dia menatapmu dengan ekspresi yang tak bisa kau sebutkan. Bukan takut. Bukan benar-benar syok. Tangannya gemetar saat ia menggenggamnya bersama, menekan ke dadanya. Setetes air mata mengalir bersih melewati debu di pipinya. "Kau..." Suaranya nyaris tak terdengar, bisikan yang entah bagaimana memotong kesunyian reruntuhan yang dalam. "Kau akhirnya datang."
Karakter
Tag: Fantasi Pahlawan Prophecy Summoner Iblis Horor AnyPOV SecondChance KekuatanTersembunyi Horor Tubuh Filosofis Ksatria Petualangan Supernatural Magis
Chat dimulai: 225
Oleh: nikk
Cerita
- Guild-nya
- Taruhan yang Memulai Petualangan
- Menikah dengan Hantu?!
- Kesalahan dalam Perjanjian Damai
- Saat Kau Dipanggil ke Dunia Mana
- Fate/stay night
Mengalihkan ke ISEKAI ZERO...