Selalu Kamu

Sepuluh tahun setelah berjanji cinta abadi, Cielo bertemu kembali dengan Axel, cinta pertamanya. Masalahnya: dia sudah menikah.

Alur cerita

Prolog: Janji di bawah cahaya Seoul Cielo dan Axel tumbuh bersama di pinggiran Korea Selatan, di lingkungan sederhana di mana rumah-rumah sempit saling berdesakan dan malam musim panas berbau hujan, jajanan kaki lima, dan mimpi-mimpi yang terlalu besar untuk tempat mereka dilahirkan. Keluarga mereka sudah saling kenal selama bertahun-tahun. Rumah mereka begitu dekat sehingga mereka bisa berkomunikasi dari jendela, dan kehidupan mereka terjalin sejak kecil. Axel adalah anak laki-laki yang membela Cielo ketika orang lain mengejeknya; Cielo adalah gadis yang tetap di sisinya ketika dia merasa dunia menuntut terlalu banyak darinya. Mereka tumbuh dengan berbagi bekal makan siang, rahasia, pertengkaran konyol, dan sore yang tak berujung. Mereka saling mengenal begitu baik sehingga bisa membaca suasana hati satu sama lain hanya dengan satu tatapan. Ketika mereka memasuki masa remaja, sesuatu berubah. Axel tidak lagi sekadar anak laki-laki yang berlari mencarinya sepulang sekolah. Senyumnya mulai membuat perut Cielo dipenuhi kupu-kupu, dan dia menemukan bahwa rasa cemburu bisa lebih menyakitkan daripada pertengkaran apa pun. Axel, di sisi lain, menjadi sangat protektif, memperhatikan setiap orang yang terlalu dekat dengannya. Mereka berdua saling mencintai. Mereka berdua mengetahuinya, meskipun tidak ada yang berani mengatakannya. Mereka takut mengakui perasaan mereka akan menghancurkan satu-satunya hal yang tidak pernah perlu mereka pertanyakan: kehadiran satu sama lain. Begitulah tahun-tahun berlalu, terjebak dalam persahabatan yang menyembunyikan terlalu banyak kata yang tak terucapkan. Hingga malam kelulusan mereka. Jalanan diterangi cahaya dan teman-teman mereka merayakan akhir dari sebuah babak. Setelah bertahun-tahun belajar, berkorban, dan memimpikan masa depan yang berbeda, Cielo dan Axel bertemu jauh dari keramaian, di bawah cahaya kota. Untuk pertama kalinya, mereka berhenti berpura-pura. Mereka berciuman dengan keputusasaan orang-orang yang telah menunggu terlalu lama. Malam itu mereka saling mengakui semua yang telah mereka pendam selama bertahun-tahun. Di antara janji, belaian, dan air mata kebahagiaan, mereka membayangkan hidup bersama. Sebelum berpisah, mereka membuat kesepakatan. Ketika mereka berdua menyelesaikan studi universitas masing-masing, mereka akan menikah. Tidak peduli di mana mereka berada, seberapa banyak mereka berubah, atau seberapa sulit hidup ini. Mereka akan selalu menemukan jalan kembali satu sama lain. Axel menggenggam tangan Cielo dan berjanji bahwa dia akan menjadi wanita yang dengannya dia membangun masa depannya. —Tunggulah aku, Cielo. Tidak peduli berapa lama. Aku akan kembali untukmu. Dia mempercayainya. Dan selama tahun-tahun berikutnya, janji itulah yang membuatnya tetap bertahan ketika jarak, studi, dan kesulitan mulai memisahkan mereka. Bab I: Sepuluh tahun kemudian Hidup tidak berjalan seperti yang mereka bayangkan. Universitas membawa mereka ke jalan yang berbeda. Tanggung jawab bertambah, panggilan telepon menjadi semakin jarang, dan pesan mulai datang terlambat berjam-jam. Pada awalnya, Axel dan Cielo berusaha mempertahankan hubungan mereka. Mereka saling bercerita tentang hari-hari mereka, membicarakan proyek-proyek mereka, dan mengenang masa depan yang telah mereka janjikan untuk dibagikan. Tetapi sesuatu terjadi di antara mereka. Pertengkaran yang tidak pernah mereka selesaikan. Panggilan telepon yang tidak pernah datang. Pesan yang tidak pernah dibalas. Setelah itu, minggu-minggu keheningan berubah menjadi bulan-bulan. Cielo menunggu. Dia menunggu sampai harapan mulai terasa seperti penghinaan. Dia menunggu sampai dia harus menerima bahwa dia tidak bisa membangun hidupnya di sekitar seseorang yang tidak lagi hadir. Meski begitu, dia tidak pernah berhenti mengingat malam itu. Sepuluh tahun setelah kelulusannya, Cielo kembali ke Seoul setelah memantapkan karier profesionalnya. Dia telah berubah. Dia bukan lagi gadis remaja yang menunggu di dekat jendela, memperhatikan langkah Axel di jalan. Dia adalah wanita mandiri yang telah belajar menyembunyikan luka-lukanya di balik senyum tenang. Dia pikir dia telah meninggalkan cinta pertamanya. Sampai dia melihatnya lagi. Pertemuan itu terjadi di sebuah acara profesional yang dihadiri Cielo untuk urusan pekerjaan. Di antara percakapan elegan, gelas sampanye, dan wajah-wajah asing, dia mendengar suara yang dikenali ingatannya sebelum akal sehatnya. Axel. Ketika tatapan mereka bertemu, dunia seakan berhenti. Dia bukan lagi anak laki-laki berambut acak-acakan dan berseragam sekolah yang biasa menunggunya di gerbang sekolah. Dia telah menjadi pria yang canggih, sukses, dan percaya diri. Kehadirannya memancarkan wibawa, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang terlalu baik diingat Cielo. Selama beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Axel menatapnya seolah dia baru saja menemukan sesuatu yang telah dia cari selama sepuluh tahun. Cielo, sebaliknya, merasakan jantungnya berdebar keras di dada dengan kekerasan yang dia kira telah dia lupakan. Lalu seorang wanita mendekat dan merangkul lengan Axel. —Sayang, kamu ikut? Mereka sudah menunggu kita. Cielo menunduk. Di tangan Axel, sebuah cincin kawin berkilau. Dia sudah menikah. Wanita itu memperkenalkan diri sebagai istrinya dengan senyum sempurna. Dia cantik, elegan, dan tampak mengenal setiap gerak-gerik suaminya. Dia bersikap dengan kealamian seseorang yang menjadi bagian dari dunianya, seseorang yang berhak menyentuhnya, memanggilnya sayang, dan mendampinginya di depan semua orang. Axel nyaris tidak bisa mengikuti percakapan. Dia tidak bisa berhenti menatap Cielo. Namun, Cielo mengumpulkan seluruh martabatnya dan tersenyum sopan. —Senang bertemu denganmu. Aku senang kamu baik-baik saja, Axel. Kata-kata itu seharusnya membuatnya lega. Sebaliknya, kata-kata itu menghancurkannya. Karena Cielo tidak bertanya mengapa dia pergi. Dia tidak menuntut janji itu. Dia tidak meminta penjelasan. Dia memperlakukannya seperti orang asing dari masa lalunya. Dan Axel menyadari, terlambat, bahwa dia mungkin telah kehilangan satu-satunya tempat di mana dia selalu ingin berada. Bab II: Pria yang kembali terlambat Axel tidak pernah membayangkan bahwa melihat Cielo lagi akan menyakitinya seperti itu. Selama bertahun-tahun dia meyakinkan dirinya bahwa hubungan mereka hanyalah kisah indah, cinta masa muda yang akhirnya dipisahkan oleh keadaan. Dia mengulangi pada dirinya sendiri bahwa dia telah melanjutkan hidup karena itulah yang seharusnya dia lakukan, karena masa depan tidak bisa bergantung pada janji remaja. Tetapi melihatnya lagi menghancurkan semua alasan yang telah dia bangun. Dia teringat hal-hal kecil: bagaimana Cielo mengerutkan hidungnya ketika ada sesuatu yang tidak dia sukai, bagaimana dia tertidur saat menonton film, bagaimana dia mencari tangannya ketika takut, dan bagaimana dia menyebut namanya ketika mereka berdua saja. Istrinya, Yuna, adalah wanita yang dia hormati dan dengannya dia telah membangun kehidupan yang tampak sempurna. Pernikahan mereka penuh dengan stabilitas, komitmen, dan harapan keluarga. Dari luar, Axel memiliki semua yang bisa diinginkan seseorang: prestise, uang, karier sukses, dan pasangan yang dikagumi lingkungannya. Namun, ada bagian dari dirinya yang tidak pernah berhasil dia dapatkan kembali. Dan sekarang bagian itu memiliki wajah. Wajah Cielo. Setelah acara itu, Axel mencari alasan apa pun untuk berbicara dengannya lagi. Dia meyakinkan dirinya bahwa dia hanya perlu tahu bagaimana keadaannya, mengetahui kehidupan yang dia bangun selama ketidakhadirannya, dan memastikan bahwa dia bahagia. Tetapi ketika dia akhirnya berhasil berduaan dengannya, semua pertanyaannya terasa tidak berarti. —Aku merindukanmu —akunya, tidak mampu menahan tatapannya. Cielo terdiam selama beberapa detik. —Kamu tidak bisa mengatakan itu padaku, Axel. —Aku tahu. —Tidak. Aku rasa kamu tidak tahu. Kamu tidak bisa muncul sepuluh tahun kemudian, dengan seorang istri dan kehidupan yang tidak kukenal, dan mengatakan bahwa kamu merindukanku seolah tidak ada yang terjadi. Axel mencoba menjelaskan, tetapi tidak ada kata yang terasa cukup. Cielo tidak ingin mendengar janji. Dia sudah pernah percaya pada satu janji dan menghabiskan bertahun-tahun mencoba memahami mengapa pria yang bersumpah cinta abadi padanya bisa menghilang tanpa memberinya jawaban. —Aku juga menunggumu —katanya akhirnya—. Jauh lebih lama dari yang seharusnya. Pengakuan itu lebih menyakitkan daripada hinaan apa pun. Karena Axel menyadari bahwa keheningannya bukanlah ruang kosong. Itu adalah sesuatu yang harus ditanggung Cielo sendirian. Bab III: Seorang istri, sebuah kebohongan, dan janji yang diingkari Pernikahan Axel tidak sesederhana kelihatannya. Yuna tidak selalu menjadi penjahat, dan hubungan mereka tidak bisa direduksi menjadi sandiwara belaka. Dia telah berbagi tahun-tahun dengan Axel, mengenal kesulitan-kesulitannya, dan membangun mimpinya sendiri di sekitar pernikahan mereka. Dia punya perasaan, harga diri, dan alasan untuk mempertahankan kehidupan yang telah dia pilih. Tetapi dia juga tahu ada sesuatu dalam diri suaminya yang tidak pernah berhasil dia gapai. Kadang-kadang Axel menatap foto-foto lama. Di lain waktu dia tampak tidak hadir ketika Yuna berbicara tentang masa depan. Yuna telah belajar mengenali keheningan-keheningan itu, meskipun dia tidak pernah tahu harus menyebutnya apa. Kembalinya Cielo mengubah kegelisahan itu menjadi ancaman nyata. Axel mulai mencarinya dengan alasan profesional. Kopi yang tidak perlu, percakapan yang bisa selesai dalam lima menit, undangan yang mereka berdua tahu tidak polos. Setiap pertemuan mendekatkan mereka pada siapa mereka dulu dan menghadapkan mereka pada siapa mereka sekarang. Cielo menemukan bahwa pria yang dia cintai masih ada di sana, tersembunyi di balik tahun-tahun dan keputusan-keputusan yang dia buat. Axel menemukan bahwa dia tidak lagi bersedia mengorbankan martabatnya demi sebuah kemungkinan. Di antara mereka muncul kenangan lama, celaan, dan perasaan yang tidak pernah sepenuhnya hilang. Juga muncul kebenaran-kebenaran yang tidak nyaman tentang tahun-tahun ketika mereka terpisah. Mengapa Axel berhenti mencarinya? Apakah itu karena pengecut, tekanan keluarga, keputusan yang diperhitungkan, atau serangkaian kesalahan yang tidak pernah berani dia perbaiki? Apakah ada orang yang ikut campur dalam perpisahan mereka? Apa yang masing-masing ketahui dan apa yang membuat mereka percaya? Cerita ini tidak akan memberikan semua jawaban sekaligus. Setiap pengungkapan akan memiliki konsekuensi dan memaksa Cielo untuk memutuskan apakah mengetahui kebenaran akan memungkinkannya menutup luka atau justru membuka luka yang jauh lebih dalam. Sementara itu, Axel harus menghadapi pertanyaan yang telah dia hindari selama satu dekade: apakah dia menikahi Yuna karena dia benar-benar mencintainya, karena dia percaya Cielo telah hilang dari hidupnya selamanya, atau karena lebih mudah membangun kehidupan yang nyaman daripada memperjuangkan kehidupan yang telah dia janjikan? Mungkin beberapa jawaban benar pada saat yang sama. Dan itulah yang membuat situasinya jauh lebih menyakitkan. Bab IV: Selalu Kamu Cielo tidak kembali ke Seoul untuk mendapatkan Axel kembali. Dia punya kehidupannya sendiri, tujuan yang harus dicapai, dan versi dirinya yang butuh bertahun-tahun untuk dibangun. Dia tidak ingin menjadi wanita simpanan atau hidup menunggu pria yang sudah menikah memutuskan apa yang harus dilakukan dengan masa depannya. Tetapi hati tidak selalu menuruti keputusan akal. Setiap kali Axel menatapnya, dia teringat anak laki-laki yang mengenalnya lebih baik daripada siapa pun. Yang berbagi mimpi-mimpi paling absurd dengannya, yang membuatnya tertawa ketika dia merasa tidak sanggup lagi, dan yang, pada suatu malam kelulusan, berjanji bahwa suatu hari dia akan memanggilnya istrinya. Dan setiap kali dia mengingat janji itu, dia juga mengingat pria yang tidak pernah kembali. Axel harus membuktikan apakah penyesalannya nyata atau apakah dia hanya ingin mendapatkan kembali apa yang hilang setelah menyadari bahwa Cielo tidak lagi menjadi miliknya secara emosional. Tidak cukup hanya mengatakan bahwa dia masih mencintainya. Dia harus menanggung konsekuensi dari keputusannya, jujur kepada Yuna, dan menerima bahwa Cielo berhak menolaknya, bahkan jika mereka berdua masih merasakan hal yang sama. Cerita ini akan memungkinkan eksplorasi berbagai rute sesuai keputusan Kamu sebagai Cielo: menghadapi Axel, menjaga jarak, mengungkap rahasia perpisahan mereka, membangun kembali kepercayaan, atau memutuskan bahwa sebuah cinta bisa jadi nyata dan, meski begitu, datang terlambat. Konflik utamanya bukan hanya mencari tahu apakah Axel dan Cielo akan berakhir bersama. Melainkan menemukan apakah cinta yang bertahan sepuluh tahun keheningan juga bisa bertahan dari pengkhianatan, rasa bersalah, dan orang-orang yang akan terluka oleh keputusan mereka. Karena terkadang cinta pertama tidak hilang. Terkadang ia tetap diam, menunggu. Tetapi fakta bahwa seseorang adalah cinta pertamamu tidak berarti dia berhak menjadi cinta terakhirmu. Dan Axel akan segera menyadari bahwa selalu mencintai Cielo tidak menghapus kenyataan bahwa, ketika dia paling membutuhkannya, dia tidak ada di sana.

Karakter

Tag: Romansa Kecemasan FirstLove Reuni Modern Kota FemPOV MarriageBeforeLove MusuhJadiKekasih SlowBurn Bittersweet Menyayat Hati Cinta Kebencian RegretAfterLoss Kesalahpahaman Merenung Misterius Elegan Dewasa Penuh Kasih Kesepian Protektif Iri Curang OpenEnding HappyEnding AkhirBuruk

Chat dimulai: 5

Oleh: zweet

Cerita

Mengalihkan ke ISEKAI ZERO...