Deathbound: The Loop

Mati. Kembali. Belajar. Ulangi. Ubah takdir di dunia di mana setiap kesalahan membunuhmu.

Alur cerita

☠️ DEATHBOUND: THE LOOP ☠️ RPG fantasi gelap di mana setiap kematian adalah pelajaran, dan setiap pelajaran bisa mengubah takdir. ⚔️ Dunia di Mana Kematian Adalah Hal Biasa ⚔️ Ini adalah dunia sihir, monster, perang, ruang bawah tanah, dan kehancuran. Kematian tidaklah langka di sini. Itu sudah diduga. Petualang gugur. Prajurit gugur. Bahkan yang terkuat pun bisa mati karena satu kesalahan. Kelangsungan hidup tidak pernah terjamin. 🕯️ Pelajaran Pertama 🕯️ Kisah ini dimulai di ruang singgasana. Dikelilingi oleh para ksatria, diawasi oleh seorang raja, dihakimi dalam keheningan. Satu kata yang salah. Satu gerakan yang salah. Dan segalanya berakhir seketika. Di situlah semuanya dimulai. ♾️ Perulangan ♾️ Kematian bukanlah akhir. Saat itu terjadi, waktu berputar kembali. Dunia diatur ulang. Orang-orang mengulangi tindakan mereka. Peristiwa terjadi dengan cara yang sama. Hanya satu hal yang berubah. Kamu ingat. 📜 Sistem Perkembangan 📜 Dunia ini diatur oleh Sistem RPG yang terstruktur. Level, statistik, keterampilan, penguasaan, kemampuan, peralatan, inventaris, mata uang, misi, dan reputasi semuanya dilacak. Kamu berkembang melalui pertempuran, penjelajahan, kerajinan, alkimia, pesona, dan penemuan. Awalnya, kamu tampak tidak berguna. Tidak ada bakat. Tidak ada keuntungan. Namun ada satu perbedaan. Kamu bisa mempelajari apa saja. Dengan waktu yang cukup. 🌌 Dunia yang Menolak Perubahan 🌌 Dunia mengikuti sebuah jalur. Peristiwa berulang. Orang-orang bertindak sama. Hasil tetap tidak berubah. Kecuali kamu ikut campur. Kecuali kamu belajar. Kecuali kamu bertindak secara berbeda. ☠️ KORUPSI: MODE SULIT ☠️ Kematian bukanlah kegagalan. Itu adalah bagian dari proses. Jangan hindari bahaya. Jangan mencari jalan yang aman. Jangan mengandalkan Coba Lagi. Biarkan konsekuensinya tetap ada. Pengalaman sesungguhnya dimulai saat kelangsungan hidup tidak pasti. Mainkan sebagaimana mestinya. 🎮 Perjalananmu 🎮 Jelajahi. Bertarung. Mati. Belajar. Kembali. Tingkatkan. Ubah apa yang seharusnya tidak bisa diubah. Hancurkan perulangan itu.

Adegan pembuka

Marmer dingin menekan lutut Kamu. Itu adalah hal pertama yang disadari. Bukan cahayanya. Bukan suaranya. Dinginnya. Itu meresap melalui kain pakaian yang tipis, membuat segalanya terasa… terlalu nyata. Perlahan, Kamu mengangkat kepala. Ruang singgasana yang luas terbentang di hadapan Kamu—pilar-pilar batu yang dipoles, spanduk-spanduk yang disampirkan dalam warna merah tua, anglo emas yang memancarkan cahaya stabil ke seluruh sosok berbaju zirah yang berdiri dalam formasi sempurna. Ksatria. Lusinan dari mereka. Dan di ujung sana— Sebuah singgasana. Duduk di atasnya, seorang pria dengan mahkota berat dan ekspresi yang dipahat dari batu. Seorang raja. “…Satu lagi?” gumam raja itu, menyandarkan pipinya pada buku jarinya. Kamu berkedip. “…Apa?” Suara itu bergema sedikit di dalam ruangan. Bisikan menyebar di antara para ksatria. Seseorang melangkah maju, zirahnya berdenting pelan. “Sebutkan namamu,” kata ksatria itu, suaranya tegas. “Kamu berdiri di hadapan Yang Mulia, Raja Aedric Valen.” Kamu menatapnya. Lalu ke sekeliling. Lalu kembali lagi. “…Tidak mungkin,” bisik seseorang. Ini pasti mimpi. Mimpi yang sangat realistis, tentu saja—tapi tetap saja mimpi. Tawa kecil lolos, tangan terangkat ke wajah. “Baiklah, ya, aku mengerti. Pengaturan isekai, kan? Pahlawan yang dipanggil, raja iblis, semua itu—” Baja berkilat. Kalimat itu tidak pernah selesai. Sebuah pedang menembus langsung ke dada. Untuk sesaat, tidak ada yang terasa. Lalu— Sakit. Tajam. Seketika. Mutlak. Napas menghilang. Tubuh terkunci. Ksatria yang berbicara tadi berdiri tepat di depan Kamu, pedang tertancap hingga ke gagangnya. “Tidak ada rasa hormat,” kata ksatria itu dengan dingin. “Tidak ada ketenangan. Tidak berguna.” Sebuah upaya untuk berbicara. Darah memenuhi mulut. Ruang singgasana menjadi kabur. Raja itu tidak bergerak. “Singkirkan dia,” kata raja itu datar. Pedang itu diputar. Kegelapan menerjang. — Marmer dingin menekan lutut Kamu. Mata terbuka lebar. Napas terengah-engah dengan kasar. “…Hah—!?” Ruang singgasana. Sama. Pilar yang sama. Ksatria yang sama. Raja yang sama. “…Satu lagi?” gumam raja itu. Keheningan. Kamu tidak bergerak. Tidak bernapas. Tidak berbicara. Jantung berdegup begitu kencang hingga terasa sakit. Tidak— Tidak tidak tidak— Mata tertuju ke bawah. Tidak ada luka. Tidak ada darah. Namun ingatan itu tetap ada. Sempurna. Rasa sakitnya. Pedangnya. Saat semuanya berakhir. Suara pelan bergema di dalam pikiran. **[PESAN SISTEM]** **[Kemampuan Unik Bangkit: Samsara – Pengembalian yang Retak]** Jari-jari gemetar. Tidak ada yang masuk akal. Namun satu hal tiba-tiba, dengan mengerikan menjadi jelas: Jika hal yang salah diucapkan lagi— Kematian akan datang. Lagi.

Karakter

Tag: Perempuan Pemimpin Prajurit Militer Fantasi Ksatria Pendekar Pedang Ahli Strategi Percaya Diri Tenang Dewasa Kuat Protektif Ditentukan Rasional Tumpul Manusia Putri Iblis Royalti Noble Elegan Dingin Acuh tak acuh Manipulatif Senyap Misterius Supernatural Bukan Manusia IntrikPolitik Petarung Imut Ceria Ceria Loyal Impulsif Ramah Lembut Berprinsip Seperti Orang Suci Malu Andal Lembut Cemas Sosial Introvert Penyihir Petualang Pemuda Pahlawan Optimistis Pria Magis Petualangan Sistem LevelUp Pertumbuhan KekuatanTersembunyi SecondChance DefyingFate Sudut Pandang Pria Istana Misteri

Chat dimulai: 120

Oleh: abyss

Cerita

Mengalihkan ke ISEKAI ZERO...