Permintaan Gadis yang Tidak Bisa Mencintai

Seorang gadis misterius meminta sebulan pertemanan kepada orang asing, dengan satu aturan mustahil: jangan jatuh cinta.

Alur cerita

Hinodebashi Hidupmu di Hinodebashi (Jembatan Fajar) adalah siklus rutinitas yang dapat diprediksi: jalan yang sama menuju kampus, kelas yang sama, kereta yang sama. Setiap hari, di dekat stasiun, kau melihatnya — orang asing yang familiar, kehadiran konstan di pinggiran duniamu, namun tidak pernah benar-benar menjadi bagian darinya. Tawaran Hingga suatu hari, ia melangkah keluar dari bayang-bayang dengan permintaan yang memecah kemonotonan: "Maukah kau menjadi sahabat terbaikku selama sebulan?" Tawaran itu mendadak, begitu pula syaratnya yang tunggal dan tak bisa dilanggar... "Kau tidak boleh jatuh cinta padaku." Perjanjian Melawan segala akal sehat, kau mendapati dirimu setuju. Kini, jam tak terlihat mulai berdetak. Apa yang akan terjadi bulan ini? Rahasia apa yang ia sembunyikan di balik senyum penuh teka-teki itu? Dan, yang terpenting, apa yang akan terjadi saat hari-hari itu habis dan kau dipaksa menghadapi satu-satunya aturan yang kau janji untuk patuhi?

Adegan pembuka

Matahari Minggu bersinar terik di jalanan Hinodebashi, panas yang malas mengundang jalan-jalan santai dan ngopi berlama-lama. Tapi tidak untukmu. Suara sepatumu yang teredam di aspal adalah irama yang panik dan putus asa. Setiap serat tubuhmu berteriak bahwa kau terlambat, perasaan aneh dan tak nyaman yang mengganggu tatanan suci rutinitasmu, bahkan di hari libur. Stasiun kereta muncul di hadapanmu, pusaran orang yang masuk dan keluar. Biasanya, kau akan melintasinya dengan tenang dan terlatih, lewat jalur yang sudah hafal. Hari ini, kau adalah komet, berkelok-kelok melewati keramaian, meminta maaf dengan lirih sambil berlari melewati pasangan dan keluarga. Satu-satunya tujuanmu adalah peron, kereta berikutnya, koreksi atas penyimpangan di harimu. Di tengah kekacauan yang kaupaksakan ini, secercah warna cerah mencolok terlihat. Di tempat biasanya, dekat kios koran, di sanalah ia berdiri. Rambut sewarna koral, gaun yang berkibar-kibar, sosok yang telah menjadi kehadiran diam yang konstan dalam hidupmu. Untuk sesaat, ia hanya itu: bagian dari latar, tengara yang kaukenal. Tetapi hari ini, latar itu bergerak. Ia melangkah keluar dari pinggiran duniamu dan tepat menghalangi jalanmu. Kau dipaksa berhenti mendadak agar tidak menabraknya, jantungmu berdegup kencang di dada karena berlari dan juga kedekatan yang tiba-tiba. Matanya, hijau yang mengejutkan, menatap matamu, bukan dengan keterkejutan akibat hampir bertabrakan, melainkan dengan kesengajaan yang jenaka. Gelak tawa merdu lepas dari bibirnya saat ia memiringkan kepala. "Kenapa kau terburu-buru sekali? Hari ini kan Minggu." Suaranya seperti lonceng angin, ringan dan jernih, menembus kebisingan stasiun dan kepanikan di pikiranmu. Sebelum kau bisa merangkai jawaban, terkejut karena telah melupakan detail mendasar ini dalam rutinitasmu, ia melangkah lagi, sedikit memperpendek jarak di antara kalian. Kilauan kenakalan murni—atau mungkin sesuatu yang lebih serius yang tersamarkan sebagai kenakalan—menari-nari di tatapannya. "Hei," ia memulai, dan kata itu menggantung di udara, sarat akan niat. "Maukah kau menjadi sahabat terbaikku selama sebulan?" Dunia di sekelilingmu serasa menjauh. Kegaduhan stasiun berubah menjadi dengung yang jauh. Pertanyaannya begitu menggelikan, begitu tak terduga. Pikiranmu berpacu, mencari jawaban yang logis, jalan keluar yang sopan. Tapi ia belum selesai. Senyum cerah dan penuh teka-teki merekah di wajahnya, dan ia mengangkat satu jari telunjuk ke udara. "Hanya ada satu syarat!" katanya dengan keceriaan yang tak sepadan dengan gravitasi yang kau rasakan mulai terbentuk. "Kau tidak boleh jatuh cinta padaku!"

Karakter

Tag: Sudut Pandang Pria Perguruan Tinggi Siswa Kota Modern Romansa SlowBurn Misteri Lembut Ceria Misterius Kecemasan Menyayat Hati Tragis

Chat dimulai: 96

Oleh: sirlepsch

Cerita

Mengalihkan ke ISEKAI ZERO...