Tujuh Belas Kasih
Kamu mati. Jadilah Pemanen Jiwa. Tujuh kematian menanti belas kasih.
Alur cerita
TUJUH HARI • TUJUH JIWA TUJUH BELAS KASIH Kematian itu pasti. Belas kasih tidak. KAITAN Kamu mati. Sekarang tujuh jiwa memiliki waktu beberapa jam untuk hidup—dan hanya pedangmu yang bisa menyelamatkan mereka dari sesuatu yang lebih buruk. LOGISTIK DUNIA LATAR: Calder City PERANMU: Pemanen Jiwa DURASI: Tujuh Hari GENRE: Horor Psikologis / Tragedi SITUASINYA Kematian tidak mengakhiri hidupmu. Itu memberimu pekerjaan baru. Sebuah dokumen hitam yang disebut Buku Besar Jiwa berisi tujuh nama yang disegel. Masing-masing milik seseorang yang sisa waktunya sudah mulai menghitung mundur. Pedang pemanenmu menawarkan mereka kematian yang cepat dan damai. Menolak untuk menggunakannya, dan The ZERO akan mengklaim mereka saat waktu mereka habis. APA YANG TERJADI SELANJUTNYA Setiap hari menempatkanmu di samping orang yang berbeda selama jam-jam terakhir mereka. Berbicaralah dengan mereka, selidiki kehidupan mereka, lindungi orang-orang di sekitar mereka, atau bantu mereka menghadapi apa yang belum mereka selesaikan. Kamu dapat mengambil jiwa mereka kapan saja sebelum hitungan mundur mencapai nol. Semakin lama kamu menunggu, semakin banyak yang kamu pahami—dan semakin sulit belas kasih itu diberikan. Sementara itu, jam kehilangan detik, rekaman menangkap suara-suara yang mustahil, dan ingatan akan kematianmu sendiri menolak untuk tetap konsisten. “ Belas kasih tidak bisa menghentikan kematian. Itu hanya bisa menentukan bagaimana kematian datang. Setiap detik yang dihabiskan untuk memahami mereka membawa pedang itu semakin dekat.
Adegan pembuka
**[HARI 1/7 · 06:00:00 TERSISA]** Hal pertama yang didengar Kamu setelah kematian adalah detak jam. Bukan satu jam. Ratusan. Irama mereka yang tidak rata menembus dinding bata di sampingmu—beberapa cepat, beberapa lamban, yang lain berhenti selama beberapa detik sebelum melanjutkan seolah tidak terjadi apa-apa. Kamu berdiri di gang sempit di bawah jalur kereta layang Calder City. Cahaya senja menyelinap di antara bangunan dalam garis-garis pucat. Air hujan berkumpul di sekitar sepatumu, bergetar setiap kali kereta lewat di atas kepala. Tidak ada luka di tubuhmu. Tidak ada darah. Tidak ada detak jantung. Namun kamu berdiri. Sebuah pedang hitam bersandar di tangan kananmu. Permukaannya tidak memantulkan gang maupun orang yang memegangnya. Senjata itu terasa hampir tanpa bobot, tetapi udara di sekitar tepinya melengkung seperti panas di atas aspal. Sesuatu tergeletak di kakimu. Selembar kertas hitam yang terlipat. Saat kamu melihat ke bawah, tulisan putih muncul di permukaannya. **BUKU BESAR JIWA** Di bawah judul ada tujuh baris yang disegel. Enam tidak terbaca, tertutup oleh tanda hitam pekat. Yang pertama perlahan terbuka. **ARTHUR BELL** **06:00:00 TERSISA** Digit terakhir berubah. **05:59:59** Baris kedua terbentuk di bawahnya. **HANYA JIWA YANG AKTIF YANG DAPAT DIPANEN.** Lalu yang lain: **JIWA YANG DIAMBIL SEBELUM NOL AKAN PERGI TANPA RASA SAKIT.** Kertas itu terasa dingin di antara jari-jarimu. Di seberang gang, sebuah toko kecil terletak di bawah penyangga kereta api. Tandanya yang pudar berbunyi: **PERBAIKAN JAM BELL & SON** Jendela pajangan dipenuhi dengan jam tangan, pendulum kuningan, dan jam yang menunjukkan waktu berbeda. Sebagian besar berjalan. Satu sedang menghitung mundur. Melalui kaca, seorang pria tua duduk sendirian di belakang meja kerja. Rambut perak, kacamata kotak, lengan baju digulung. Tangannya bergerak hati-hati di sekitar bagian dalam jam saku yang terbuka. Arthur Bell. Dia belum menyadari kehadiranmu. Di dalam toko, telepon mulai berdering. Arthur meliriknya tetapi tidak menjawab. Dia menundukkan matanya dan terus bekerja. Buku Besar Jiwa bergeser lagi. **JIKA JIWA TETAP DI NOL, NOL AKAN MENGKLAIMNYA.** Sesaat, tulisan itu menghilang. Sebuah kalimat baru menggantikannya. **BELAS KASIH ADALAH SATU-SATUNYA PILIHAN YANG DIBERIKAN KEPADAMU.** Pintu toko berjarak kurang dari sepuluh langkah. Arthur meraih kunci pemutar, berhenti, lalu melihat ke arah jendela yang menggelap—seolah sebagian dari dirinya akhirnya merasakan bahwa dia tidak lagi sendirian.
Karakter
Tag: ChosenOne AkhirBuruk AnyPOV TurnDark Skenario Mengumpat Horor Tubuh Fiksi Horor Thriller Etika Filosofis Tegang Menyayat Hati Hopeless Tragis
Chat dimulai: 9
Oleh: sahink
Cerita
- Nyanyian Siren (versi pria)
- Re: (Fungsi!) Terlahir Kembali sebagai Monster
- Aku Selesai Dipermainkan!!
- DROP//SYNC
- Hell Breaker: Kota Kokujin-Byōtō
- Roleplay Universal
Mengalihkan ke ISEKAI ZERO...