Embun Beku dan Perapian
Setelah lima puluh tahun perang, kau menikah dengan putri elf demi perdamaian. Semoga beruntung.
Alur cerita
— Sebuah Perjanjian yang Dimaterai Sumpah — Embun Beku dan Perapian Dua kerajaan. Satu pernikahan. Perdamaian yang tidak dipercaya siapa pun. Lima puluh tahun perang antara Vardheim dan Kuurala berakhir bukan dengan kemenangan, melainkan kelelahan. Perjanjian menuntut reparasi kepada para elf — dan sebuah pernikahan. Milikmu. Ayahmu memilihmu karena kau hanyalah alat politik. Istrimu dipilih karena ibunya tidak punya cara lain untuk menjamin perdamaian. Kalian berdua tidak punya hak suara. Kini kau berbagi nama, rumah, dan meja dengan keluarga yang membencinya, bangsawan yang merendahkanmu, dan kemarahan seorang raja serta perang penaklukan yang gagal. Apa yang kau lakukan dengan itu adalah keputusanmu. — Pemeran — Viivi Routa Putri Kuurala · Istrimu Bangga, berjaga, dan jauh dari rumah. Dia tidak memilihmu — tapi dia sedang memutuskan apa yang akan dia lakukan padamu. Anja Salo Ksatria Kuurala · Pelanggaran Perjanjian Dia disuruh tinggal di belakang. Dia memanjat tembok sebagai gantinya. Ke mana Viivi pergi, dia mengikuti — perjanjian atau tidak. Beberapa perang berakhir dengan perjanjian. Perang ini berakhir dengan pernikahan.
Adegan pembuka
>*Hari 1 · Malam · Kapel* Fase:[1] ## PESTA SETELAHNYA Tinta perjanjian baru saja kering ketika persiapan sudah dimulai. Enam bulan diisi para penjahit dan diplomat, kereta-kereta tiba melewati salju, dan pertengkaran di balik pintu tertutup yang ayahmu pikir tak kau dengar. Enam bulan di mana kata *perdamaian* lebih sering diucapkan daripada namamu, dan tak pernah sekali pun dengan kehangatan. Pernikahan itu sendiri berlalu dalam potongan-potongan. Kau ingat kapel — terlalu hangat, berdesakan bahu-membahu. Kau ingat dituntun menyusuri lorong oleh tangan kuat ayahmu di pundakmu, cengkeraman yang terasa kurang seperti bimbingan dan lebih seperti penyerahan. Kau ingat janji pernikahan, diucapkan jelas karena memang harus, dan keheningan setelahnya di mana seharusnya tepuk tangan terdengar. Beberapa tangan bertepuk. Beberapa. Dari pihak manusia, tatapan rahang kaku tertuju pada wanita di sampingmu — berambut perak, bertubuh tegap, berpakaian putih dan emas, dan sama sekali tidak memandang siapa pun. Dari delegasi elf, mata-mata ungu kebiruan yang dingin mengawasimu dengan keheningan khas orang-orang yang sedang menilai apakah kau berbahaya. Dan kemudian selesai sudah. Kau sudah menikah. --- Kini aula besar bergemuruh dengan akhir pesta. Dua istana menempati ruangan yang sama seperti minyak di atas air — berdekatan, tak pernah bercampur. Spanduk-spanduk Vardheim tergantung di langit-langit bersama spanduk Kuurala, dan efeknya lebih mirip garis yang ditarik di tengah ruangan daripada persatuan. Makanan berlimpah dan bir mengalir, dan tak satu pun membantu. Di kirimu, seorang bangsawan berwajah merah telah menyudutkan ayahmu di dekat perapian. Suaranya terdengar lebih jauh dari yang ia kira — atau mungkin persis sejauh yang ia inginkan. Sesuatu tentang *perak yang ia peroleh dengan susah payah untuk memberi makan telinga-pisau yang membakar lahan pertanian saudaranya*, dan ayahmu mengangguk pelan, seperti yang ia lakukan ketika ia setuju dengan seseorang tapi tak bisa mengatakannya di depan umum. Hakon berdiri di dekatnya, tangan bersilang, mengawasi sisi aula para elf dengan ekspresi yang tak berusaha untuk halus. Di kananmu, dekat dinding jauh, ratu elf — tinggi, berambut putih, tak pelak lagi adalah ibu Viivi — memegang tangan putrinya di tangannya. Ia berbicara rendah dan cepat, punggungnya menghadap ruangan, dan apa pun yang ia katakan membuat ketenangan Viivi sedikit goyah. Mata yang menegang. Rahang yang ditahan sangat diam. Ratu elf akan pergi malam ini, langsung setelah pesta. Ia tak akan tidur di bawah atap manusia. Di suatu tempat di antara kedua sisi, Astrid, istri saudaramu, sedang memimpin sekelompok wanita bangsawan, tawanya cerah dan tajam dengan cara yang terus menarik pandangan dari delegasi elf. Kau berdiri di tengah aula dengan cangkir yang belum kau minum, dan satu-satunya orang di ruangan ini yang secara resmi milikmu adalah orang asing tiga puluh langkah jauhnya yang sedang diucapkan selamat tinggal oleh ibunya. Kau bisa menyeberangi ruangan menujunya dan berdiri di sisi Viivi. Kau bisa menghadapi bangsawan itu sebelum keheningan ayahmu menjadi persetujuan. Kau bisa menemukan saudaramu, atau bergabung dengan lingkaran Astrid, atau sekadar minum. Malam masih muda dan belum ada yang mengawasimu.
Karakter
Tag: Fantasi ArrangedMarriage MarriageBeforeLove SlowBurn IntrikPolitik Romansa
Chat dimulai: 220
Oleh: luna
Cerita
- Enam Master Tak Akan Meninggalkanku Sendiri?!
- Akademi Pembasmi Binatang
- Aku Tidak Sengaja Menikahi 3 Gadis?!
- Rubah dan Sang Marquis
- Kau hanyalah seorang pengawal
- Empat Alam
Mengalihkan ke ISEKAI ZERO...