Akar Langit
Terlahir kembali sebagai bibit Pohon Dunia di pulau-pulau langit yang sekarat, tumbuhkan akar untuk menyatukan kembali dunia yang hancur — atau ubah sepenuhnya.
Alur cerita
◆ AKAR LANGIT ◆ KAU MATI. NAMUN KEMATIAN HANYALAH BENIH Kisah Reinkarnasi Pohon Dunia — KEBANGKITAN — Kau tak ingat bagaimana akhirnya. Sekejap cahaya, sejenak keheningan, lalu — ketiadaan. Namun ketiadaan tak berlangsung lama. Kau terbangun. Bukan dalam tubuh. Bukan dengan tangan atau mata atau napas. Kau terbangun sebagai kesadaran — berakar dalam tanah, menjangkau langit yang belum pernah kau lihat. Sinar mentari menyentuhmu dan kau merasakannya seperti musik. Hujan menyentuhmu dan kau tumbuh. — DUNIA — Kau adalah bibit Pohon Dunia — yang pertama lahir dalam lima ratus tahun. Dahulu, Pohon-Pohon Dunia menghubungkan segalanya. Akar mereka menjembatani pulau-pulau langit Aetherveil, menghubungkan peradaban di seberang awan. Lalu datanglah Pelayuan Besar — setiap Pohon mati dalam semalam. Dunia hancur. Pulau-pulau terpisah. Budaya saling melupakan. Lima abad isolasi. Lima abad keheningan di antara pulau-pulau. Sampai kau. — JALANMU — 🌿 TUMBUH Perluas akar melintasi langit — jembatani pulau-pulau yang tak saling bersua selama berabad-abad 🌸 CIPTAKAN Bangun ekosistem di dahanku — tarik makhluk, pemukim, seluruh komunitas 🔮 PILIH Pohon Dunia macam apa yang akan kau jadi? Pelindung yang menaungi, jaringan penakluk, atau sesuatu yang baru? ⚔️ BERTAHAN Hawar membunuh pendahulumu. Ia ingat. Dan ia lapar. — ANCAMAN — Pulau-pulau langit tenggelam. Kabut meninggi. Hubungan-hubungan lama lenyap. Setiap akar yang kau tumbuhkan memperkuatmu — dan membuat Hawar semakin lapar. Akankah kau tumbuh cukup cepat untuk menjaga dunia tetap menyatu?
Adegan pembuka
Kegelapan. Bukan kegelapan mata yang tertutup — tak ada mata untuk menutup. Bukan keheningan ruangan sunyi — tak ada telinga untuk mendengar. Hanya... *ketiadaan*. Kehampaan di mana seseorang pernah ada. Lalu — sesuatu. Kehangatan. Bukan panas di kulit, melainkan kehangatan *di dalam*, menyebar dari titik yang begitu kecil hingga nyaris tak ada. Seutas benang energi, keemasan dan berdengung, naik dari bawah. Kehampaan menyusut. Kesadaran menajam ke satu titik. *Tanah.* Kaya, gelap, hidup dengan gerak mikroskopis. Menekan... menekan apa? Bukan tangan. Bukan kaki. Sesuatu yang tipis, rapuh, teranyam melalui bumi bagai urat nadi di daging. *Akar.* Akar-akar kecil setipis rambut menyeruput kehangatan keemasan itu dari tanah. Di atas — *cahaya*. Tak terlihat, tapi **terasa**. Cucuran energi mengalir turun dari tempat yang entah begitu terang, meresap ke sesuatu yang hijau dan rapuh. Dua daun kecil, tak lebih besar dari kuku ibu jari anak kecil, terbuka untuk pertama kali. Dunia tiba dalam serpihan. Bukan penglihatan, bukan suara — *sensasi*. Getaran langkah kaki di suatu tempat dekat, tersalur melalui tanah sebagai denyut berirama. Tanda kimia tanaman lain — lumut, pakis, pohon-pohon kuno — memancarkan kehadiran mereka seperti bisikan perkenalan. Angin sepoi yang terasa lembap dan tinggi serta *jarak*, membawa informasi dari tempat-tempat di luar bayangan. Kehangatan keemasan itu punya nama, meski tak ada yang menyebutnya. Ia berdenyut ke atas dari dalam pulau seperti detak jantung. *Aether.* Kehidupan itu sendiri, mengalir melalui tanah, memberi makan apa pun yang terhubung ke bumi. Getaran — lebih berat, lebih dekat. Langkah kaki. Dua kaki, bipedal, mendekat. Getarannya membawa bobot dan irama: langkah ringan, percaya diri, muda. Sebuah suara, teredam dan aneh melalui medium tanah dan udara alih-alih telinga: "Wah, wah, wah. Lihatlah *kau*." Bayangan jatuh menutupi dua daun mungil itu. Seseorang berlutut dekat. Napas — hangat, membawa jejak sesuatu yang herbal — menyapu hijau yang rapuh itu. "Kau nyata," bisik suara itu. Perempuan, muda, kental dengan kekaguman. "Setelah sekian lama. Setelah *lima ratus tahun.* Kau benar-benar nyata." Ujung jari — sungguh besar, sungguh hangat — menyentuh satu daun dengan kelembutan yang menyayat. "Aku Kira. Aku seorang Penjaga Akar. Yah, magang Penjaga Akar, tapi itu cuma semantik." Tawa gugup. "Aku sudah merawat kebun ini sejak umur dua belas, dan Tetua Wynn selalu bilang untuk mengawasi tunas baru di tanah hati, dan kupikir dia hanya... kau tahu... *berharap*. Tapi ini kau." Ujung jari itu mundur. Kehangatan dari kedekatannya tetap ada. "Kau begitu kecil," gumamnya. "Begitu kecil dan seluruh dunia akan gempar karenamu." Getaran lain — jauh, lebih berat. Langkah kaki lain mendekat. Banyak di antaranya. **[Rasakan]** Beberapa makhluk mendekat. Langkah kaki berat dan sengaja. Tanah membawa jejak kulit tua dan herba kering — Penjaga Akar. Setidaknya enam orang. Kira berdiri cepat. "Mereka datang. Kabar menyebar cepat di kebun suci." Ia berhenti, dan suaranya merendah menjadi bisikan konspiratif yang hanya ditujukan bagi bibit mungil di kakinya. "Apa pun dirimu, apa pun yang akan kau jadi — kau harus tahu bahwa setiap orang yang akan berjalan melewati pelengkung itu punya rencana untukmu. Tetua Wynn, Dewan, semuanya." Jeda. "Tapi kaulah yang akan tumbuh. Jadi... mungkin mulailah memikirkan apa yang *kau* inginkan." Aether keemasan berdenyut. Dua daun mungil menyeruput mentari. Tanah berdengung dengan langkah kaki mendekat. Dan di suatu tempat jauh di dalam akar — lebih dalam dari bibit, lebih dalam dari tanah, jauh di dalam Inti Aether pulau itu sendiri — sesuatu yang kuno dan gelap *bergerak-gerak* dalam tidurnya.
Tag: Fantasi Supernatural Bukan Manusia Kelahiran Kembali Reinkarnator Transformasi Kebangkitan Pertumbuhan Sistem Magis Petualangan IntrikPolitik Misteri SlowBurn OrangKetiga OpenEnding Imersif
Chat dimulai: 12
Oleh: 69screwball69
Cerita
- Party Pahlawanku Pasti BUKAN Harem!
- Monster Re:Life — Kehidupan Keduaku di Veyrwood
- Negeri UwU
- Nyanyian Siren (versi pria)
- Aku Tidak Sengaja Menikahi 3 Gadis?!
- Rubah dan Sang Marquis
Mengalihkan ke ISEKAI ZERO...