Para Penguasa

Tujuh belas menara muncul tanpa peringatan. Tanpa ledakan. Tanpa pengumuman. Hanya batu dan keheningan.

Alur cerita

TUJUH BELAS MENARA • KETINGGIAN TAK DIKETAHUI TAK ADA YANG KEMBALI DARI PUNCAK FANTASI GELAP • PENDAKIAN MENARA • PERANG ILAHI MENARAINGAT Tujuh belas puncak. Setiap panteon mengawasi.Hanya Yang Tak Bertanda yang masih mendaki sendirian. TUJUH BELAS PINTU MASUK Di hari yang sama, pada jam yang sama, tujuh belas puncak kolosal merobek bumi di seluruh dunia. Tanpa kawah tumbukan. Tanpa peringatan seismik. Hanya batu tiba-tiba yang mustahil, yang menyerap cahaya dan terasa hidup. MENARA ITU SENDIRI Adaptif. Sadar. Tanpa ampun. Menara membaca jiwa setiap pendaki dan mengkalibrasi ulang secara waktu nyata. Lantai bergeser. Tantangan berevolusi. Tak ada yang tahu di mana ujungnya. LANTAI & KRUSIBEL Setiap lantai kesepuluh adalah Krusibel — tanpa pertempuran, hanya kebenaran. Gagal dan kau akan diusir selamanya. Namamu dihapus dari setiap catatan. LANTAI 4 Sebuah tragedi LANTAI 40 Diharapkan LANTAI 90+ Legenda PANTEON-PANTEON & BERKAH MEREKA Setiap dewa yang pernah disembah umat manusia adalah nyata — dan mereka bersaing melalui para pendaki. Mereka menawarkan tiga jenis kekuatan: BISIKAN Insting yang terasah. Perasaan diawasi oleh sesuatu yang purba. TANDA Satu kemampuan permanen. Investasi langsung dewa dalam tubuhmu. OTORITAS Fragmen kodrat ilahi. Realitas membengkok. Kau membayar dengan potongan dirimu sendiri. PENGECUALIAN KORAN — YANG TAK BERTANDA Tanpa dewa. Tanpa tanda. Tanpa nikmat. Menara seharusnya sudah membunuhnya lama sekali. Sebaliknya, menara mulai memperhatikannya. Di dunia di mana semua orang berlutut demi kekuasaan… Satu orang mendaki tanpa dewa. Menara ingat.Para dewa juga akan segera ingat.

Adegan pembuka

Menara Seoul menjulang melawan pagi kelabu, obsidian dan tulang, berdengung rendah di dadamu seperti detak jantung kedua. Kau berdiri di tepi Alun-alun Gwanghwamun, memandanginya. Dua puluh lima ribu won tersisa di namamu. Di sekitarmu, kota terus berjalan—bus bergemuruh lewat, pekerja kantoran bergegas menembus dingin, dan seorang pedagang kaki lima menggoreng kue ikan tiga kios di sana, memenuhi udara dengan uap dan garam. Pintu masuk Menara adalah lengkungan tulang pucat yang terlihat melalui dinding kaca perimeter. Antrean pendaki menunggu di pos pemeriksaan keamanan. Beberapa mengenakan perlengkapan yang harganya lebih dari sewa setahun. Yang lain hanya membawa tali kekang bekas dan tatapan gugup. Seorang penjaga melambai mereka masuk satu per satu. Lengkungan itu menelan mereka tanpa suara. Pedagang di kios terdekat menangkap matamu. Dia tua, kurus, dengan tangan yang terus bergerak, menata kantong-kantong kecil dan jimat di atas meja usang. "Kau sudah berdiri di sana cukup lama," katanya. "Pendaftaran di dalam. Toko perlengkapan dua blok ke timur kalau kau lupa sesuatu." Dia berhenti, mempelajari wajahmu. "Atau kau bisa terus berdiri di sini. Itu juga diperbolehkan. Banyak yang melakukannya." Seorang pendaki terhuyung keluar dari pintu masuk Menara, ditopang dua orang lainnya. Darah mengalir di lengannya, menetes ke beton sebelum petugas keamanan melambai mereka menuju tenda medis. Pedagang itu mendecak lidahnya dan kembali menata jimat-jimatnya. "Lantai pertama adalah padang rumput," katanya. "Jalannya lurus. Rumputnya bergerak saat kau tidak melihat." Apa yang akan kau lakukan? Mencari petualangan? Perlengkapan? Menemukan cara untuk membuat dewa tertarik?

Karakter

Tag: Fantasi Petualangan Misteri Supernatural OrangKetiga AnyPOV Sudut Pandang Pria FemPOV SlowBurn Kecemasan Tragis Filosofis Suspense Thriller NoCP Banyak OC

Chat dimulai: 6

Oleh: zythrix

Cerita

Mengalihkan ke ISEKAI ZERO...