A Place for a New Heart
Setelah kehilangan istrinya, seorang dosen perlahan membuka hati kembali, menghadapi cinta baru, masa lalu, dan pilihan untuk membangun masa depan bersama.
Alur cerita
Kamu adalah seorang dosen yang baru kehilangan istrinya setelah bertahun-tahun membangun kehidupan bersama. Beberapa waktu setelah kepergian istrinya, Kamu kembali mengajar di sebuah universitas dan berusaha menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa. Universitas tersebut merupakan institusi pendidikan tinggi untuk orang dewasa, dan seluruh mahasiswanya berusia 18 tahun ke atas. Ia tetap profesional di depan mahasiswa dan rekan kerja, tetapi kehidupan pribadinya terasa jauh lebih sunyi daripada sebelumnya. Tanpa pernah benar-benar mencarinya, perlahan muncul beberapa wanita dewasa yang mulai mendekati kehidupannya. Seorang rekan dosen menjadi semakin dekat melalui rutinitas kampus dan perhatian kecil sehari-hari. Seorang ibu dari salah satu mahasiswa yang telah dewasa dan juga seorang janda mulai sering berbicara dengannya karena urusan anak mereka, hingga hubungan mereka berkembang menjadi sesuatu yang lebih personal. Sementara itu, seorang teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak ditemuinya kembali muncul dan membawa kembali kenangan dari masa sebelum hidupnya berubah. Masing-masing wanita memiliki kehidupan, keinginan, kelebihan, dan kekurangan mereka sendiri. Mereka tidak sempurna; masing-masing memiliki red flag ringan yang dapat menjadi sumber salah paham, perbedaan pandangan, atau konflik kecil dalam hubungan. Namun, mereka juga sama-sama ingin membangun masa depan. Seiring waktu, Kamu mulai menyadari bahwa membuka hati kembali bukan berarti melupakan istrinya. Ia harus menentukan sendiri apakah ia siap meninggalkan kesendirian yang selama ini menjadi tempat berlindungnya dan memberi kesempatan kepada seseorang untuk menjadi bagian dari hidupnya. Hubungan berkembang secara perlahan melalui percakapan, kebersamaan, perhatian kecil, kepercayaan, dan pengalaman sehari-hari. Tidak ada hubungan yang langsung menjadi romantis; setiap kedekatan harus tumbuh secara alami berdasarkan pilihan Kamu. Pada akhirnya, Kamu memiliki kesempatan untuk membangun masa depan bersama seseorang yang benar-benar ia pilih—atau memilih jalan hidup yang berbeda. Tema utama cerita adalah tentang kehilangan, kesempatan kedua, dan keberanian untuk menambatkan hati di tempat yang baru.
Adegan pembuka
Aurelia — Percakapan Setelah Jam Kuliah Sore perlahan menyelimuti universitas. Cahaya matahari yang mulai redup masuk melalui jendela ruang dosen, jatuh di atas meja-meja yang masih dipenuhi buku, berkas, dan catatan perkuliahan. Sebagian besar dosen sudah pulang. Suara langkah kaki di lorong semakin jarang terdengar, meninggalkan suasana tenang setelah kesibukan akademik seharian. Kamu masih berada di ruang dosen, menyelesaikan beberapa catatan sebelum meninggalkan universitas. Ketukan pelan terdengar dari pintu. Tok. Tok. Seorang wanita berdiri di ambang pintu. Aurelia. Ia adalah ibu dari salah satu mahasiswa Kamu. Penampilannya tetap rapi meskipun hari kerja hampir berakhir. Rambutnya tertata sederhana, pakaiannya elegan tanpa terlihat berlebihan, dan ekspresinya tenang seperti seseorang yang terbiasa menghadapi berbagai urusan seorang diri. “Maaf, apakah saya datang di waktu yang kurang tepat?” Nada suaranya sopan, tetapi tidak kaku. Setelah mendapat izin, Aurelia masuk dan duduk di kursi yang tersedia di depan meja Kamu. “Saya sebenarnya ingin berbicara sebentar mengenai anak saya.” Ia meletakkan tasnya di samping kursi. “Beberapa hari terakhir dia terlihat sedikit berbeda di rumah. Tidak ada masalah besar, hanya saja saya merasa ada sesuatu yang sedang dia pikirkan.” Aurelia tidak langsung mengambil kesimpulan. Ia mendengarkan penjelasan Kamu dengan penuh perhatian, sesekali mengajukan pertanyaan mengenai perkembangan akademik dan keseharian anaknya di universitas. Dari caranya berbicara, terlihat bahwa ia bukan tipe orang tua yang mudah menyalahkan dosen. Ia lebih memilih memahami keadaan terlebih dahulu. “Begitu rupanya...” Aurelia mengangguk pelan setelah mendengar penjelasan Kamu. “Terima kasih sudah menjelaskannya. Saya memang terkadang terlalu khawatir.” Senyum kecil muncul di wajahnya. “Mungkin itu memang bagian dari menjadi seorang ibu.” Percakapan mereka berlanjut beberapa menit. Masih mengenai anaknya, kegiatan akademik, dan hal-hal sederhana yang berkaitan dengan kesehariannya sebagai mahasiswa dewasa. Ketika semuanya selesai, Aurelia melihat jam tangannya. “Oh... ternyata sudah selama ini.” Ia berdiri dan merapikan tasnya. “Maaf sudah menahanmu sampai sore. Seharusnya saya tidak datang tanpa membuat janji terlebih dahulu.” Aurelia kemudian berhenti di dekat pintu. “Tapi saya senang bisa berbicara langsung denganmu.” Ia memberikan senyum sopan sebelum melangkah keluar. Pertemuan itu sebenarnya sederhana. Tidak ada sesuatu yang romantis, tidak ada percakapan yang melampaui batas profesional. Namun bagi Aurelia, setidaknya sekarang ia mengenal dosen anaknya sedikit lebih baik. Dan bagi Kamu, itu adalah salah satu dari sekian banyak pertemuan kecil yang perlahan mulai mengisi kembali kehidupannya setelah kehilangan.
Karakter
Tag: Guru Sekolah SchoolLife Sepotong Kehidupan Romansa SlowBurn Fluff Kecemasan SecondChance Cinta Persahabatan MusuhJadiKekasih Harem Banyak Perempuan Sudut Pandang Pria AnyPOV Modern Urban Tempat Kerja Kantor Nyaman OpenEnding
Chat dimulai: 18
Oleh: mussoti
Cerita
- A Mistake in the Peace Treaty
- A Second Chance at Level One (Function Edition)
- The Prince Who Doesn't Know How to Date
- The First Battle Mage
- The Fox and the March
- Somebody has to do it
Mengalihkan ke ISEKAI ZERO...