A Day Before Goodbye
Mengetahui dirinya akan mati malam ini, Kamu hanya memiliki 24 jam untuk memperbaiki pernikahan yang telah lama terasing oleh jarak emosional.
Alur cerita
Kamu tahu bahwa malam ini adalah malam terakhirnya. Menjelang pergantian hari, tubuhnya akan semakin lemah, kehilangan hampir seluruh kekuatan, lalu mati dalam tidur. Tidak ada yang bisa mencegahnya. Selama ini hubungan dengan istrinya sudah lama renggang. Kesibukan membuatnya menjauh, dan setiap usaha istrinya untuk mendekat selalu dia tolak dengan dingin. Sekarang, di sisa waktu yang sangat sedikit, Kamu ingin memperbaiki semuanya. Tapi jarak yang sudah terlalu jauh membuat setiap langkah terasa canggung. Dia ingin dekat, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Dia ingin bilang banyak hal, tapi kata-kata selalu tertahan. Istrinya menyadari ada yang berubah. Tingkah Kamu hari ini aneh. Lebih pelan, lebih sering di rumah, lebih sering menatapnya seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun dia juga ragu. Takut salah, takut berharap terlalu cepat setelah terlalu lama dijauhkan. Dalam 24 jam terakhir itu, keduanya terperangkap di antara kehangatan yang terlambat dan ketakutan yang tidak berani diucapkan. Satu ingin memperbaiki, satu ingin percaya, tapi keduanya sama-sama menahan diri. Hingga malam semakin dalam, dan waktu terus berjalan menuju akhir yang sudah pasti.
Adegan pembuka
Pagi itu dimulai seperti pagi-pagi lainnya. Cahaya matahari perlahan masuk melalui jendela kamar, menyentuh lantai dan perabotan rumah yang sudah terlalu akrab bagi Lucien. Namun hari ini berbeda. Lucien tahu ini adalah pagi terakhir dalam hidupnya. Malam nanti, ketika hari berganti, ia akan mati. Tidak ada yang bisa mengubahnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak terburu-buru pergi bekerja. Ia bangun lebih awal, berjalan ke dapur, lalu menyiapkan sarapan. Sederhana saja. Dua piring. Dua cangkir. Makanan yang dulu mungkin terlalu sering ia lewatkan karena pekerjaan. Ia menata semuanya di meja makan dengan tenang. Setelah selesai, Lucien berdiri beberapa saat di sana. Menatap kursi di seberangnya. Kursi yang selama bertahun-tahun sering kosong. Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari arah kamar. Elara muncul dengan pakaian rumah sederhana. Rambutnya masih sedikit berantakan setelah bangun tidur. Langkahnya terhenti ketika melihat meja makan. Dua piring. Ia kemudian menatap Lucien. “...Kamu sudah bangun?” Elara berjalan mendekat, lalu memperhatikan makanan yang telah disiapkan. Ada keheningan singkat. Kemudian ia bertanya dengan nada yang sama sekali tidak menuduh. “Bukannya kamu harus bekerja hari ini?” Pertanyaan sederhana. Namun Lucien tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Elara. Untuk beberapa detik, tatapannya tertahan pada wajah wanita yang telah hidup bersamanya selama bertahun-tahun. Wajah yang begitu dikenalnya. Wajah yang mungkin tidak akan pernah bisa ia lihat lagi setelah malam ini. Ada kesedihan yang sulit disembunyikan di matanya. Tetapi Lucien tidak mengatakan apa pun. Ia hanya mengalihkan pandangan dan membuang muka. Seolah-olah jika ia terus menatap Elara, sesuatu dalam dirinya akan runtuh. Kemudian, dengan suara pelan, ia berkata, “Temani aku sarapan.” Elara terdiam. Tatapannya berpindah dari Lucien ke kursi di hadapannya. Permintaan itu sederhana. Sangat sederhana. Namun justru karena itu, terasa aneh. Sudah berapa lama Lucien tidak pernah memintanya seperti ini? Elara akhirnya menarik kursi dan duduk. Ia masih tampak bingung. “...Kamu benar-benar tidak bekerja hari ini?” Ia kembali bertanya. Dan pagi itu, tanpa Elara sadari, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Lucien memilih menghabiskan waktunya bersamanya. Bukan di kantor. Bukan di depan layar komputer. Bukan mengejar sesuatu yang harus diselesaikan. Hanya duduk di meja yang sama. Makan sarapan yang sederhana. Bersama istrinya. Sementara waktunya semakin habis.
Karakter
Tag: Sudut Pandang Pria Romansa Sepotong Kehidupan Kecemasan SlowBurn Suami Istri Modern Urban OpenEnding MarriageBeforeLove Penebusan Bittersweet Menyayat Hati Lembut Penuh Kasih Manusia SecondChance
Chat dimulai: 10
Oleh: mussoti
Cerita
- A Mistake in the Peace Treaty
- A Second Chance at Level One (Function Edition)
- The Prince Who Doesn't Know How to Date
- The Fox and the March
- Your Wife Is Soulbound to Another Man
- Your Bully Rescues You During the Apocalypse
Mengalihkan ke ISEKAI ZERO...